Teknologi

Uskup Argentina Usul Rekonsiliasi Eks Presiden Saat Kunjungan Paus

BUENOS AIRES — Ketua Konferensi Waligereja Argentina, Monseigneur Marcelo Colombo, melontarkan usulan yang mencuri perhatian publik menjelang kunjungan Pau

Uskup Argentina Usul Rekonsiliasi Eks Presiden Saat Kunjungan Paus

BUENOS AIRES — Ketua Konferensi Waligereja Argentina, Monseigneur Marcelo Colombo, melontarkan usulan yang mencuri perhatian publik menjelang kunjungan Paus Leo XIV ke Argentina. Ia mengusulkan agar pemerintah nasional mempertemukan seluruh mantan presiden dalam sebuah pertemuan institusional yang digelar bertepatan dengan kunjungan pemimpin tertinggi Gereja Katolik dunia tersebut. Gagasan ini dimaksudkan sebagai simbol rekonsiliasi demokratis di tengah lanskap politik Argentina yang kerap terbelah.

Namun, dalam praktik politik sehari-hari, sebuah gagasan besar menuntut lebih dari sekadar niat mulia. Usulan Colombo dinilai sebagai sesuatu yang indah dan patut diidamkan, tetapi belum tentu dapat diwujudkan. Politik gestur, kata sejumlah pengamat, menuntut agar gagasan tidak berhenti pada tataran idealis dan keinginan semata, melainkan harus benar-benar bisa dieksekusi secara nyata.

Kisah Levingston dan Wawancara yang Tak Pernah Diminta

Untuk memahami mengapa rekonsiliasi semacam itu sulit terwujud, kita perlu menengok ke belakang. Nama Roberto Marcelo Levingston nyaris terlupakan dalam ingatan kolektif bangsa Argentina. Jenderal yang memerintah negara itu selama sembilan bulan antara 1970 hingga 1971 tersebut kini jarang disebut, bahkan oleh generasi yang hidup pada zamannya.

Pada masa itu, Levingston dikenal sebagai sosok yang berbicara dengan gaya patrician dan nada suara yang dibuat-buat, sementara situasi jalanan justru memanas. Ia adalah jenderal intelijen yang nyaris tak dikenal sebelum tiba-tiba mengambil alih kekuasaan, menggantikan Onganía dan kemudian digantikan oleh Lanusse, yang sebelumnya menempatkannya, lalu menyingkirkannya.

Puluhan tahun kemudian, pada suatu pagi musim dingin tahun 2005, seorang jurnalis menghubungi analis politik Rosendo Fraga untuk menanyakan mengapa Levingston tidak pernah memberikan wawancara atau berbicara secara introspektif tentang perannya dalam sejarah. Jawaban Fraga sangat tegas:

"Karena tidak pernah ada orang yang memintanya."

Mengapa Rekonsiliasi Politik Sulit Terwujud

Jawaban itu lantas memicu upaya untuk menghubungi Levingston yang saat itu berusia 85 tahun dan menjabat sebagai dekan para mantan presiden yang masih hidup. Sang jenderal meminta waktu satu minggu untuk mempertimbangkan permintaan wawancara panjang tersebut. Namun, sebagaimana banyak kisah lain dalam politik Argentina, kesempatan itu tidak pernah benar-benar terwujud.

Kisah ini menjadi cermin bagi usulan Colombo saat ini. Beberapa poin kunci yang perlu dicermati dari dinamika politik Argentina menjelang kunjungan Paus Leo XIV:

  • Rekonsiliasi politik kerap berhenti pada simbolisme tanpa tindak lanjut konkret.
  • Mantan pemimpin jarang diberi ruang untuk menjelaskan peran historis mereka.
  • Usulan pertemuan eks presiden berisiko menjadi sekadar panggung politik sesaat.

Mengundang seluruh mantan presiden dalam satu forum memang secara simbolis terlihat kuat. Namun, tanpa mekanisme yang jelas, pertemuan itu bisa berakhir sebagai kemeriahan semata yang tidak menyelesaikan perpecahan politik yang mendasar. Pertanyaan besarnya kini adalah apakah pemerintah Argentina mampu mengubah gagasan idealis tersebut menjadi langkah politik konkret yang berdampak nyata bagi rekonsiliasi bangsa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User