Teknologi

Sigrid Dziwak Akhirnya Peluk Intensitas Emosionalnya

Di sudut persimpangan Las Heras dan Austria, seorang remaja berusia 14 tahun berdiri mematung. Ia menatap pasangan lansia yang bergandengan tangan saat men

Sigrid Dziwak Akhirnya Peluk Intensitas Emosionalnya

Di sudut persimpangan Las Heras dan Austria, seorang remaja berusia 14 tahun berdiri mematung. Ia menatap pasangan lansia yang bergandengan tangan saat menyeberang jalan, lalu matanya bertemu dengan tatapan seekor anjing jalanan yang tampak kehilangan harapan. Sesuatu yang tak terlihat oleh orang lain terjadi di dalam dirinya: tenggorokan mengetat, lalu air mata mengalir tanpa bisa ditahan.

Bagi teman-teman sekolahnya, tidak ada yang istimewa dari peristiwa itu. Namun bagi Sigrid Dziwak, dunia terasa bergetar pada volume yang menyakitkan. Selama bertahun-tahun, ia tumbuh dengan perasaan bahwa dirinya aneh, tidak pas, dan cacat sejak lahir—seolah sistem filter emosionalnya mengalami kesalahan pabrik.

Kabur dari Keramaian Keluarga

Di masa dewasa, pergulatan itu belum berakhir. Saat berkumpul dengan keluarga besar bersama pria yang kini menjadi suaminya, setiap acara ramai berubah menjadi odiseus diam-diam. Percakapan berteriak, tawa yang menggelegar, dan hiruk-pikuk rangsangan menenggelamkannya sepenuhnya.

Mekanisme bertahan hidupnya terbilang tak biasa: berkali-kali menyelinap ke kamar mandi, duduk di lantai untuk bermain dengan hewan peliharaan, atau berlindung di antara anak-anak kecil. Di balik semua itu, satu kecaman internal tak pernah absen—dugaan konstan bahwa ada yang rusak dalam kepalanya karena ia tak bisa menikmati suasana seperti kebanyakan orang.

"Semua yang saya alami terjadi di dalam diri. Dan di situ semuanya berhenti, kecuali yang bisa saya salurkan ke berbagai seni yang saya tekuni sejak ingatan pertama: menulis, dan..."

Sigrid menyebut bahwa seni menjadi satu-satunya jalan keluar bagi luapan batin yang tak bisa diungkapkan. Menulis, bermusik, dan ekspresi kreatif lainnya menjadi wadah tunggal bagi emosi yang selama ini dipendam.

Dari Insinyur ke Psikolog: Membongkar Zirah Korporat

Secara profesional, Sigrid adalah insinyur sekaligus psikolog—dua dunia yang tampak bertolak belakang. Di lingkungan korporat, ia membangun zirah ketat untuk bisa diterima dan dianggap normal. Zirah itu bekerja dengan baik, sampai ia memutuskan untuk membongkarnya.

Kepunyannya atas kepekaan berlebih itu akhirnya menemukan jawaban ilmiah: ia adalah Orang dengan Sensitivitas Tinggi atau Highly Sensitive Person (HSP). Kondisi ini bukan gangguan mental, melainkan karakteristik saraf yang membuat seseorang memproses rangsangan secara lebih mendalam.

AspekReaksi Orang Sensitif TinggiReaksi Umum
KeramaianMudah kewalahan, mencari jalan keluarNyaman dan menikmati
Emosi orang lainMenyerap sampai ke titik kelelahanTerbatas pada situasi langsung
KonflikDihafal bertahun-tahunBerlalu seiring waktu
Seni dan alamMendalam hingga mengharukanMenyenangkan sesaat

Sejak menemukan penjelasan itu, Sigrid memilih jalan berbeda. Alih-alih terus menyembunyikan diri, ia kini memberi kebebasan penuh pada intensitas emosionalnya dan membantu orang lain memahami "desain diri" mereka sendiri.

Pesan bagi Mereka yang Merasa Berbeda

Kisah Sigrid menyentuh jutaan orang yang selama ini merasa salah tempat. Menurut penelitian, sekitar 15-20 persen populasi dikategorikan memiliki sistem saraf highly sensitive.

"Hari ini, saya beri kebebasan pada intensitas saya. Bukan karena saya berubah, tapi karena saya akhirnya berhenti memperbaiki sesuatu yang tidak pernah rusak."

Pesannya jelas: merasa terlalu banyak bukan berarti terlalu sedikit. Bagi banyak orang, kepekaan yang dulu dianggap kelemahan justru menjadi kekuatan terbesar ketika dipahami dan dirangkul.

  • Kenali pemicu: catat situasi yang membuat Anda kewalahan.
  • Beri ruang pulih: jadwalkan waktu tenang setelah aktivitas padat.
  • Hentikan stigma diri: sensitivitas bukan cacat, melainkan cara kerja saraf.
  • Salurkan lewat kreativitas: menulis, musik, atau seni visual.

Kini, perempuan yang pernah menangis di persimpangan jalan itu berdiri dengan tegak tanpa zirah. Ia membuktikan bahwa dunia yang terlalu keras sesungguhnya sangat membutuhkan mereka yang berani merasakan terlalu dalam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lidia-susanto

Reporter Olahraga Wanita. Fokus pada atlet perempuan dan kesetaraan gender dalam olahraga.

Comments (0)

User