Suasana akademik di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mendadak bergemuruh oleh hadirnya ratusan pakar dan peneliti dari berbagai penjuru dunia. Melalui kolaborasi strategis antara Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik, ULM resmi menggelar konferensi internasional bertajuk INTAN-HANDIL (International Conference on Tropical Agriculture, Natural Resources, and Sustainable Wetland Engineering). Forum bergengsi yang dipusatkan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini menjadi panggung utama bagi pertukaran gagasan ilmiah guna menjawab tantangan krisis iklim global serta ketahanan pangan berbasis pengelolaan lahan basah.
Acara yang berlangsung secara hibrida tersebut tidak hanya membedah teori akademik mutakhir, tetapi juga mengangkat kearifan lokal Kalimantan Selatan ke kancah internasional. Istilah “Handil”—sebuah sistem saluran air tradisional hasil budi daya suku Banjar—menjadi fokus perhatian utama para akademisi mancanegara. Sistem ini terbukti efektif dalam mengelola tata air lahan pasang surut secara alami selama berabad-abad. Para peneliti sepakat bahwa integrasi teknologi rekayasa modern dengan kearifan lokal seperti sistem Handil merupakan kunci utama dalam memitigasi degradasi lingkungan lahan basah dan gambut.
"Konferensi ini bukan sekadar ajang berkumpulnya para akademisi, melainkan sebuah momentum transformatif untuk mengawinkan teknologi rekayasa modern dengan kearifan lokal Handil. Kita ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa riset lahan basah dari Banjarmasin mampu memberikan solusi nyata bagi krisis ekologi global," tegas Prof. Dr. Ahmad Alim Bachri, Rektor ULM dalam pidato pembukaannya.
Sinergi Lintas Disiplin untuk Solusi Berkelanjutan
Kolaborasi antara Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik ULM menandai era baru riset multidisiplin di perguruan tinggi Indonesia. Sektor pertanian membutuhkan inovasi teknologi tepat guna untuk meningkatkan produktivitas hasil bumi di tanah pasang surut tanpa merusak struktur ekosistem. Di sisi lain, sektor teknik berperan menyediakan rekayasa infrastruktur air dan bangunan ramah lingkungan yang mampu beradaptasi dengan karakter tanah rawa yang labil.
Berikut adalah ringkasan capaian dan profil pelaksanaan konferensi internasional INTAN-HANDIL tahun ini:
| Indikator Utama | Capaian Konferensi |
|---|---|
| Total Partisipan | 350 Akademisi & Peneliti |
| Jangkauan Negara | 12 Negara (termasuk Jepang, Australia, Malaysia, dan Jerman) |
| Makalah Ilmiah | 145 Makalah Terpilih yang siap dipublikasikan di jurnal terindeks Scopus |
| Fokus Utama Riset | Pertanian Presisi, Rekayasa Tata Air, dan Pemulihan Ekosistem Gambut |
Menghubungkan Kearifan Lokal dengan Inovasi Modern
Penerapan teknologi modern seperti pemantauan berbasis Internet of Things (IoT) untuk mengukur kelembapan gambut serta pemetaan pemanfaatan lahan menggunakan drone menjadi topik hangat yang dipresentasikan para ahli. Namun, para peserta konferensi menyadari bahwa penerapan teknologi tersebut tidak akan optimal jika mengabaikan pola interaksi sosial masyarakat lokal yang telah lama menetap di kawasan lahan basah.
Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta penurunan muka tanah (*subsidence*) yang kerap melanda wilayah tropis menjadi tantangan bersama yang dicarikan jalan keluarnya melalui konferensi ini. Rekayasa hidrologi berbasis sistem Handil yang disempurnakan dengan teknologi pintu air otomatis diyakini mampu menjaga kelembapan tanah gambut sepanjang tahun, sehingga risiko kebakaran dapat ditekan secara drastis.
Forum INTAN-HANDIL diakhiri dengan kesepakatan pembentukan konsorsium riset internasional. Hasil-hasil riset ilmiah yang telah dipresentasikan tidak sekadar menjadi dokumen akademis, melainkan dirumuskan menjadi naskah kebijakan strategis bagi pemerintah daerah maupun pusat. Melalui aksi nyata ini, ULM semakin mengukuhkan posisinya sebagai pusat keunggulan (center of excellence) studi lahan basah tingkat internasional.
Comments (0)