Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Ta'lif wan Nasyr merilis naskah khutbah Jumat edisi September 2026 yang menyoroti maraknya musibah kebencanaan di tanah air. Melalui materi tersebut, PBNU membingkai deretan bencana alam bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan sebagai bentuk "alarm peringatan" serius dari alam semesta atas kelalaian manusia dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Pihak PBNU mengimbau seluruh khatib di penjuru Nusantara untuk memanfaatkan mimbar Jumat sebagai media edukasi publik. Para khatib diharapkan dapat menyuarakan narasi ekoteologi Islam, yaitu ajaran agama yang mengaitkan tingkat keimanan seorang muslim dengan keaktifannya dalam merawat bumi dan melakukan mitigasi bencana lingkungan.
Perspektif Ekoteologi NU: Bencana dan Tanggung Jawab Manusia
Dalam naskah khutbah tersebut, PBNU secara khusus mengutip firman Allah SWT dalam Surah Ar-Rum ayat 41, yang menegaskan bahwa berbagai Kerusakan di darat dan di laut merupakan dampak langsung dari perbuatan tangan manusia. Pendekatan ini menegaskan bahwa bencana kerap kali berakar dari eksploitasi alam berlebihan yang mengabaikan aspek keberlanjutan.
"Bencana alam sering kali menjadi bentuk refleksi dan teguran atas keserakahan manusia dalam mengeksploitasi sumber daya tanpa memikirkan dampak jangka panjang. Memelihara lingkungan adalah bagian integral dari prinsip ajaran Islam (maqashid syariah), khususnya dalam menjaga keselamatan jiwa (hifz an-nafs) dan keberlanjutan generasi (hifz an-nasl)," ujar KH Ulil Abshar Abdalla, Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU.
Berikut adalah perbandingan pendekatan pandangan terhadap isu kebencanaan antara paradigma antroposentris konvensional dengan perspektif ekoteologi Islam yang diusung NU:
| Aspek Penilaian | Paradigma Antroposentris Eksploitatif | Perspektif Ekoteologi Islam (NU) |
|---|---|---|
| Pandangan terhadap Alam | Alam dianggap komoditas ekonomi semata | Alam adalah amanah Tuhan dan sarana ibadah |
| Penyebab Bencana | Dianggap murni fenomena alam atau takdir pasif | Akibat eksploitasi, kelalaian, dan perusakan oleh manusia |
| Fokus Solusi | Penanganan fisik pascabencana semata | Mitigasi vegetatif, perbaikan perilaku, dan pemulihan ekosistem |
Urgensi Edukasi di Mimbar Jumat dan Data Kebencanaan
Langkah PBNU mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam teks khutbah Jumat berlandaskan pada realitas data lapangan. Berdasarkan catatan nasional, lebih dari 90% kejadian bencana di Indonesia didominasi oleh bencana hidrometeorologi, seperti banjir bandang, tanah longsor, dan kekeringan ekstrem yang dipicu oleh alih fungsi lahan serta perubahan iklim global.
Dengan jaringan lebih dari 100.000 masjid dan pesantren di seluruh Indonesia, PBNU menilai mimbar Jumat memiliki daya jangkau yang sangat efektif untuk mentransformasikan kesadaran spiritual menjadi aksi nyata di tengah masyarakat.
Urutan Langkah Konkret Mitigasi Lingkungan Bagi Umat
Sebagai bentuk implementasi dari ajaran khutbah tersebut, PBNU merekomendasikan empat langkah aksi nyata yang dapat segera diterapkan oleh jamaah dan pengurus masjid:
- Gerakan Sedekah Pohon: Menggalakkan penanaman pohon vegetatif di kawasan rawan longsor dan bantaran sungai sebagai bentuk investasi pahala jariyah.
- Pengelolaan Sampah Berbasis Masjid: Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan mengelola sampah rumah tangga agar tidak menyumbat saluran air.
- Efisiensi Penggunaan Air: Mempraktikkan penghematan air saat berwudu dan kebutuhan sehari-hari sesuai sunnah Rasulullah SAW.
- Perlindungan Area Resapan Air: Menghentikan alih fungsi lahan hijau secara liar dan aktif merawat kawasan tutupan hutan lokal.
Melalui rilis naskah khutbah ini, PBNU berharap timbul kesadaran kolektif dari seluruh lapisan masyarakat. Musibah bencana diharapkan tidak lagi disikapi dengan kepasrahan pasif, melainkan menjadi momentum koreksi diri (muhasabah) untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam lingkungan sekitarnya.
Comments (0)