Di balik gemuruh panggung musik dunia dan sorotan lampu ketenaran The Beatles, mendiang George Harrison menemukan ketenangan sejati di balik rimbunnya dedaunan dan tanah basah. Pada 1970, sang gitaris legendaris membeli sebuah perkebunan era Victoria bernama Friar Park yang berlokasi di Henley-on-Thames, Inggris. Properti seluas lebih dari 60 ekar tersebut kala itu berada dalam kondisi memprihatinkan, terbengkalai, dan tertutup semak belukar liar setelah bertahun-tahun tidak terurus.
Tanpa ragu, George mencurahkan tenaga, waktu, dan imajinasinya untuk merevitalisasi lahan bersejarah tersebut. Baginya, merawat tanah bukan sekadar hobi pengisi waktu luang, melainkan bentuk meditasi dan ekspresi spiritual yang mendalam. Aktivitas berkebun ini kemudian bertransformasi menjadi tradisi keluarga yang penuh kehangatan, tempat tanaman dirawat dengan penuh ketelatenan.
Menghidupkan Kembali Kemegahan Lanskap Victoria
Karya restorasi di Friar Park bukanlah proyek berskala kecil. Harrison membongkar vegetasi liar yang menutupi keindahan arsitektur taman peninggalan eksentrik Sir Frank Crisp dari abad ke-19. Sistem tata air diperbaiki, jalur bebatuan pegunungan mini ditata ulang, dan fitur lanskap yang rusak direkonstruksi secara bertahap.
Kecintaan George terhadap seni botani begitu kuat hingga ia sering menyebut dirinya lebih sebagai seorang tukang kebun daripada musisi. "Saya hanya seorang tukang kebun yang kebetulan bermain musik," menjadi salah satu ungkapan ikonik yang mencerminkan kerendahan hatinya di hadapan alam.
| Aspek Restorasi | Kondisi Awal (1970) | Kondisi Terkini |
|---|---|---|
| Kondisi Vegetasi | Terbengkalai dan tertutup semak liar | Tertata rapi dengan ribuan flora eksotis |
| Koleksi Topiari | Rusak dan kehilangan bentuk asli | Lebih dari 160 spesimen topiari terawat |
| Tata Kelola | Tidak terawat selama beberapa dekade | Dilestarikan berkelanjutan oleh Olivia Harrison |
Dedikasi Olivia Harrison Melanjutkan Visi
Setelah George Harrison wafat pada November 2001, tanggung jawab besar memelihara mahakarya botani ini beralih ke pundak sang istri, Olivia Harrison. Alih-alih membiarkan kawasan tersebut terbengkalai atau mengalihfungsikannya, Olivia berkomitmen penuh untuk menjaga setiap jengkal visi yang telah dirintis suaminya.
"Merawat taman ini adalah cara saya menjaga percakapan dengan George tetap hidup. Setiap pohon dan bentuk topiari menyimpan memori serta jiwa yang ia tinggalkan di sini," tutur Olivia dalam salah satu refleksi memoriamnya.
Di bawah pengawasan Olivia, taman Friar Park kini menjadi rumah bagi lebih dari 160 spesimen topiari yang dipangkas rumit dan dirawat secara berkala. Upaya pelestarian ini mencakup:
- Pemeliharaan rutin seni pangkas tanaman (topiari) dengan teknik tradisional Inggris.
- Konservasi taman batu (rock garden) dan gua buatan era Victoria.
- Pengembangan varietas tanaman langka yang ramah terhadap ekosistem satwa lokal.
Kini, Friar Park berdiri megah bukan hanya sebagai monumen arsitektur botani Victoria, melainkan bukti nyata cinta, ketekunan, dan dedikasi abadi yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.
Comments (0)