JAKARTA — Dua peristiwa besar menjadi sorotan nasional pada pekan ini: kesiapan akhir penyelenggaraan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang, Jawa Timur, serta meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menggerus habitat harimau Sumatera di Riau. Kedua peristiwa tersebut menunjukkan betapa dinamika kehidupan berbangsa berjalan serentak, dari arena sosial keagamaan hingga persoalan lingkungan hidup yang mendesak.
Gus Ipul Turun Tangan, Pastikan Arena Muktamar Siap Tempur
Dua hari menjelang pembukaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama, suasana Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, terasa semakin ramai. Ketua Panitia Muktamar sekaligus Sekretaris Jenderal Pengurus Besar NU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, melakukan peninjauan langsung untuk memastikan seluruh finalisasi kesiapan pelaksanaan muktamar berjalan sesuai jadwal.
Peninjauan tersebut mencakup kesiapan arena utama, sistem registrasi peserta, hingga penataan logistik bagi ribuan warga nahdliyin yang akan datang dari berbagai daerah di tanah air. Gus Ipul menegaskan bahwa tidak ada ruang untuk kelalaian dalam penyelenggaraan acara tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia ini.
"Kami ingin memastikan semua elemen siap — dari arena, registrasi, sampai pelayanan peserta. Muktamar adalah momentum besar umat," ujar Gus Ipul dalam peninjauannya.
Kehadiran langsung Sekjen PBNU ini dinilai sebagai bentuk keseriusan panitia dalam menjaga mutu penyelenggaraan. Sistem registrasi digital juga disiapkan agar proses verifikasi peserta berlangsung cepat, tertib, dan transparan.
Sebagai catatan, Muktamar merupakan forum tertinggi NU yang digelar setiap lima tahun sekali. Agenda utamanya mencakup perhitungan pertanggungjawaban organisasi, pemilihan Ketua Umum baru, serta penetapan khittah perjuangan organisasi. Tidak heran jika seluruh mata warga nahdliyin sedunia tertuju pada Tambakberas, kawasan historis yang erat dengan jejak pendiri NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari.
Karhutla Gulung SM Kerumutan, Habitat Harimau Terancam
Sementara itu, di sisi lain Pulau Sumatera, kondisi lingkungan justru memprihatinkan. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Supartono, mengonfirmasi bahwa kebakaran hutan dan lahan telah merambah kawasan Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan.
Kawasan konservasi yang sebagian besar berupa hutan gambut ini merupakan rumah bagi harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang statusnya kini terancam punah. Asap tebal dan titik api yang menyebar dikhawatirkan mengusik jalur jelajah satwa langka tersebut, termasuk mendorong konflik antara harimau dan manusia di wilayah perlintasan.
"Kami terus memantau dan berkoordinasi untuk penanganan karhutla di kawasan suaka margasatwa. Upaya pemadaman dipercepat agar dampaknya terhadap satwa terkendali," kata Supartono.
Beberapa poin penting terkait kondisi terkini di lapangan:
- Luasan terdampak: Titik api dilaporkan membakar area hutan gambut yang menjadi habitat alami harimau Sumatera dan berbagai satwa liar lainnya.
- Ancaman ekologis: Kebakaran gambut berpotensi menghancurkan ekosistem secara permanen karena lapisan gambut membutuhkan waktu sangat lama untuk pulih.
- Upaya penanganan: Tim gabungan dari BBKSDA, Manggala Agni, TNI/Polri, dan pemda dikerahkan untuk operasi pemadaman.
- Faktor pemicu: Musim kemarau panjang diduga menjadi pemicu utama, meski indikasi aktivitas lahan tak luput dari sorotan aparat.
Pemerhati lingkungan mengingatkan bahwa hilangnya habitat akibat karhutla bukan sekadar kerugian ekologis lokal, melainkan ancaman nyata terhadap keberlangsungan spesies ikonik Indonesia. Setiap hektare hutan yang terbakar berarti menyempitkan ruang hidup harimau Sumatera yang populasinya diperkirakan tinggal ratusan ekor di alam liar.
Dua Wajah Indonesia: Semangat Organisasi dan Ujian Lingkungan
Di tengah gemuruh persiapan muktamar yang sarat nuansa kebangsaan, kabar karhutla dari Riau menjadi pengingat bahwa bangsa ini juga tengah menghadapi ujian lingkungan yang serius. Keduanya adalah dua wajah Indonesia hari ini: semangat gotong royong keagamaan di satu sisi, dan tanggung jawab menjaga bumi di sisi lain.
Pemerintah pusat maupun daerah dituntut hadir lebih agresif dalam penanggulangan karhutla, sekaligus menindak tegas para pemicu kebakaran. Di saat yang sama, kesuksesan Muktamar NU Ke-35 diharapkan dapat menjadi energi baru bagi persatuan bangsa, dengan tetap meninggalkan pesan penting tentang kepedulian sosial — termasuk terhadap kelestarian alam Indonesia.
[SOCIAL_TWEET]: Dua hari jelang Muktamar NU ke-35 di Jombang, Gus Ipul pastikan arena & registrasi siap. Sementara di Riau, karhutla gulung SM Kerumutan — habitat harimau Sumatera makin terancam! 🐯🔥 #MuktamarNU #KarhutlaRiau[SOCIAL_TG]: 📢 TERDEPAN.ID — Muktamar NU Siap Digelar Jombang, Karhutla Ancam Harimau Sumatera Riau. Gus Ipul tinjau finalisasi arena & registrasi peserta di Tambakberas, Jombang. BBKSDA Riau konfirmasi karhutla merambah SM Kerumutan, habitat harimau Sumatera terancam. Baca selengkapnya 👇
Comments (0)