SERANG, Terdepan.id — Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) meningkatkan intensitas operasi SAR menyusul hilangnya kapal yang membawa rombongan lima orang jurnalis di kawasan Perairan Selat Sunda, Banten. Untuk memaksimalkan radius pantauan, Basarnas mengerahkan armada udara berupa Helikopter HR-3604 guna menyisir titik koordinat yang diduga menjadi lokasi terakhir kontak kapal tersebut.
Pengerahan unit helikopter ini dinilai krusial mengingat luasnya area pencarian dan potensi pergeseran arus laut yang cukup kuat di sekitar perairan strategis antara Pulau Jawa dan Sumatra tersebut. Tim SAR gabungan kini membagi fokus operasi melalui dua jalur utama, yakni pemantauan udara dan penyisiran permukaan laut.
Operasi Udara dan Koordinat Prioritas
Kepala Kantor SAR Banten menyampaikan bahwa keputusan mengerahkan armada helikopter jenis Dauphin HR-3604 diambil untuk merespons cepat laporan kehilangan kontak sejak kapal melintas di perairan terbuka. Jalur udara memungkinkan tim menjangkau wilayah-wilayah terpencil di sekitar gugusan pulau kecil yang sulit diakses kapal patroli dalam waktu singkat.
"Penyisiran udara menggunakan Helikopter HR-3604 difokuskan pada sektor barat hingga selatan Selat Sunda. Kami berupaya mendeteksi keberadaan serpihan kapal, sinyal darurat, maupun tanda-tanda visual lainnya dari udara secara presisi," ujar perwakilan Basarnas Banten dalam keterangan resminya.
Selain pemantauan visual langsung, kru helikopter juga dilengkapi dengan peralatan navigasi dan komunikasi terpadu untuk memberikan koordinat langsung kepada armada laut yang bersiaga di bawah.
Kronologi dan Langkah Penanganan SAR
Berdasarkan informasi yang dihimpun tim operasi, berikut adalah kronologi dan tahapan penanganan pencarian lima jurnalis yang hilang:
- Laporan Kehilangan Kontak: Otoritas maritim menerima laporan darurat terkait kapal motor yang membawa lima jurnalis belum tiba di pelabuhan tujuan sesuai jadwal estimasi akibat cuaca buruk.
- Aktivasi Tim Respon Cepat: Basarnas Banten segera membuka Posko Tanggap Darurat dan berkoordinasi dengan Polairud, TNI AL, serta potensi relawan SAR maritim.
- Penyisiran Awal Armada Laut: Kapal Rigid Inflatable Boat (RIB) dan kapal patroli dikerahkan untuk memetakan arah arus laut dominan pada radius 15 hingga 25 mil laut dari titik kontak terakhir.
- Dukungan Helikopter HR-3604: Basarnas meluncurkan helikopter pencari guna memperluas jangkauan pandang dan menyisir area blind-spot di gugusan pulau karang.
Tantangan Cuaca dan Kolaborasi Gabungan
Operasi penyelamatan di Selat Sunda kerap menghadapi tantangan dinamika oseanografi yang tinggi. Gelombang laut berkisar antara 1,5 hingga 2,5 meter serta tiupan angin kencang menjadi faktor penghambat pergerakan tim SAR di lapangan.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, tim gabungan menerapkan skema pencarian bertahap dengan mengerahkan sejumlah armada pendukung:
- 1 Unit Helikopter HR-3604: Khusus pemantauan perimeter udara radius luas.
- Kapal Penyelamat KN SAR: Bertindak sebagai pusat komando bergerak di laut lepas.
- Rigid Inflatable Boat (RIB): Menyisir perairan dangkal dan tepian pulau.
- Stasiun Radio Maritim (SROP): Memancarkan siaran navigasi keselamatan bagi seluruh kapal niaga yang melintas agar segera melapor jika melihat tanda keberadaan korban.
Basarnas memastikan operasi pencarian ini akan terus berlangsung secara optimal dengan memperhitungkan faktor keselamatan regu penolong dan perkembangan kondisi cuaca maritim dari BMKG.
Comments (0)