Empat pria di Vietnam menghebohkan media sosial setelah nekat berjalan di sepanjang jalan tol dengan kostum karakter "Kera Sakti" dari kisah klasik Journey to the West. Aksi mereka bukan sekadar hiburan atau konten viral, melainkan sebuah misi emosional: memenuhi wasiat seorang teman yang telah meninggal dunia. Peristiwa ini menyentuh hati banyak orang dan memicu diskusi luas tentang batas antara penghormatan pribadi dan keselamatan publik di era digital.
Kisah di Balik Kostum dan Jalan Kaki
Menurut informasi yang beredar, keempat pria tersebut mengenakan kostum lengkap yang meniru karakter dalam legenda Journey to the West, termasuk Sun Wukong (Kera Sakti), Zhu Bajie (Babi), dan Sha Wujing (Sha Monk). Mereka berjalan menyusuri jalan tol—sebuah pilihan rute yang sangat berbahaya dan melanggar aturan lalu lintas. Namun, bagi mereka, ini adalah simbol perjalanan spiritual yang pernah dijanjikan kepada almarhum teman mereka.
Wasiat tersebut konon berisi permintaan agar mereka melakukan perjalanan bersama, meski dalam wujud yang tidak biasa. Aksi ini pun menjadi semacam pemenuhan janji terakhir. "Kami hanya ingin membuat dia tersenyum di sana," ujar salah satu dari mereka dalam sebuah wawancara singkat yang dikutip media lokal. Meski tidak menyebutkan identitas lengkap, pernyataan itu cukup menggambarkan kedalaman ikatan persahabatan mereka.
Respons Publik: Antara Haru dan Kritis
Video dan foto aksi keempat pria itu cepat menyebar di platform media sosial. Banyak warganet mengaku terharu dengan dedikasi mereka terhadap mendiang teman. Namun, tidak sedikit pula yang mengkritik karena membahayakan diri sendiri dan pengguna jalan lain. "Ini tindakan yang berani, tetapi sangat tidak bertanggung jawab dari sisi keselamatan," tulis seorang pengguna Facebook.
Kepolisian setempat dilaporkan telah menindaklanjuti insiden ini. Mereka mengingatkan bahwa jalan tol bukan tempat untuk pejalan kaki, apalagi dengan kostum yang bisa mengalihkan perhatian pengemudi. Meski demikian, hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai sanksi yang dijatuhkan.
Fenomena Budaya dan Batas Norma Sosial
Kisah "Kera Sakti" ini bukan kasus pertama di mana legenda klasik Tiongkok dipakai sebagai ekspresi emosional di Asia Tenggara. Karakter Sun Wukong telah lama menjadi simbol keberanian, kesetiaan, dan perjalanan panjang menuju pencerahan. Di Vietnam, kisah Journey to the West juga populer, terutama melalui adaptasi televisi yang tayang puluhan tahun lalu.
Psikolog sosial Dr. Nguyen Thi Lan dari Universitas Hanoi menilai aksi ini sebagai bentuk collective mourning atau berkabung bersama. "Ketika seseorang kehilangan sahabat, mereka sering mencari cara unik untuk mengekspresikan rasa kehilangan. Kostum dan perjalanan menjadi metafora yang kuat," jelasnya. Namun, ia juga menekankan pentingnya menyalurkan ekspresi tersebut tanpa melanggar hukum atau membahayakan orang lain.
Di sisi lain, fenomena ini menunjukkan bagaimana teknologi digital—melalui platform berbagi video—telah mengubah cara orang berkabung dan merayakan kenangan. Apa yang dulu mungkin hanya dilakukan secara privat, kini bisa menjadi tontonan publik dalam hitungan jam. Ini menciptakan disrupsi dalam norma sosial: batas antara duka pribadi dan konsumsi publik menjadi kabur.
Keempat pria itu mungkin tidak menyangka aksi mereka akan memicu perdebatan nasional. Namun, satu hal yang jelas: mereka telah meninggalkan jejak emosional yang dalam, bukan hanya bagi keluarga almarhum, tetapi juga bagi jutaan orang yang menyaksikan perjalanan mereka. Dalam dunia yang semakin terhubung, kisah persahabatan dan wasiat ini menjadi pengingat bahwa teknologi dan tradisi bisa bertemu dalam cara yang tak terduga—kadang menggetarkan, kadang menuai kritik.
Comments (0)