BEIJING, TERDEPAN.ID — Tiongkok dipastikan bakal mengemban mandat kepemimpinan sekaligus menjadi tuan rumah penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-19 pada tahun 2027 mendatang. Keputusan strategis ini menegaskan posisi sentral Beijing dalam mengarahkan peta jalan kerja sama antarnegara berkembang di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global yang semakin kompleks. Pemerintah Tiongkok menyatakan kesiapannya untuk merangkul seluruh negara anggota guna memperkuat konsensus serta mempertegas arah kemitraan strategis blok tersebut di masa depan.
Kepastian tersebut disampaikan secara resmi oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, dalam konferensi pers yang digelar di Beijing pada Senin, 14 September 2026. Dalam keterangannya, Beijing berkomitmen penuh untuk memfasilitasi dialog konstruktif yang berorientasi pada hasil nyata demi mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan dan global secara inklusif.
"Kami akan membangun konsensus dan bekerja sama dengan semua pihak untuk merencanakan masa depan, membawa kerja sama BRICS memasuki dekade emas ketiga serta membuka prospek kemakmuran dan kemajuan bersama," ujar Guo Jiakun saat menyampaikan pernyataan resminya di Beijing.
Menyongsong Dekade Emas Ketiga BRICS
Pengumuman kepemimpinan Tiongkok ini mengemuka tak lama setelah Presiden Tiongkok, Xi Jinping, menghadiri rangkaian KTT Ke-18 BRICS yang berlangsung di India pada 12–13 September 2026. Dalam forum tingkat tinggi tersebut, Presiden Xi aktif menyuarakan pentingnya konsolidasi internal serta perluasan peran aliansi dalam tata kelola global. Selama dua hari pelaksanaan KTT, Xi berpartisipasi dalam dua sesi utama dan mengadakan serangkaian diskusi bilateral dengan para pemimpin negara anggota.
Dalam pidatonya di India, Presiden Xi merangkum rekam jejak dua dekade perjalanan BRICS menjadi tiga pilar utama yang sangat mendasar: kemandirian dan penguatan diri, keberanian untuk berdiri bersama dalam menghadapi berbagai tantangan global, serta komitmen tinggi untuk menghasilkan capaian yang konkret dan berdaya guna bagi masyarakat luas. Ketiga pilar ini dinilai menjadi pondasi vital saat BRICS melangkah menuju era baru pasca-perluasan keanggotaan.
Berikut adalah perbandingan transisi kepemimpinan KTT BRICS dalam kurun waktu 2026–2027:
| Agenda KTT | Tuan Rumah | Waktu Pelaksanaan | Fokus Utama Kerja Sama |
|---|---|---|---|
| KTT BRICS Ke-18 | India | 12–13 September 2026 | Penguatan fondasi 20 tahun BRICS & konsolidasi anggota baru |
| KTT BRICS Ke-19 | Tiongkok | Tahun 2027 | Membuka Dekade Emas Ketiga & penentuan arah kerja sama masa depan |
Penguatan Multilateralisme dan Ekonomi Global
Kepemimpinan Tiongkok pada tahun 2027 diprediksi akan membawa angin segar bagi arsitektur ekonomi Global South. Seiring berjalannya waktu, blok BRICS telah bertransformasi dari sebuah forum dialog ekonomi sederhana menjadi salah satu kekuatan geoekonomi paling berpengaruh di dunia. Dengan mencakup lebih dari 40 persen populasi dunia dan kontribusi signifikan terhadap PDB global, BRICS menjadi penyeimbang utama dalam sistem multilateralism modern.
Analis hubungan internasional menilai bahwa Tiongkok memiliki kapasitas logistik, finansial, dan diplomasi yang kuat untuk menggerakkan agenda-agenda besar BRICS. Fokus utama yang diprediksi akan menjadi sorotan pada KTT 2027 mencakup efektivitas New Development Bank (NDB), pemanfaatan mata uang lokal dalam perdagangan lintas batas, serta integrasi teknologi digital antarnegara anggota. Kepemimpinan ini dipandang sebagai kesempatan emas untuk merumuskan standar baru dalam kerja sama pembangunan yang inklusif.
Tantangan dan Spektrum Kemitraan Masa Depan
Kendati demikian, tantangan yang dihadapi Tiongkok dalam memimpin BRICS pada 2027 tidaklah ringan. Dengan bertambahnya anggota baru dalam beberapa tahun terakhir, menjalin konsensus tunggal menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan kepiawaian diplomasi tingkat tinggi. Kepentingan nasional yang beragam dari setiap negara anggota menuntut kepemimpinan yang adaptif dan akomodatif.
Pemerintah Tiongkok optimistis bahwa semangat kesetaraan dan saling menghormati akan tetap menjadi landasan utama aliansi ini. "Kerja sama BRICS bukan hanya tentang angka pertumbuhan ekonomi, melainkan juga tentang komitmen moral untuk menciptakan sistem dunia yang lebih adil dan seimbang," tegas perwakilan diplomatik Tiongkok menanggapi kesiapan Beijing menyambut perhelatan akbar tersebut.
Melalui penyelenggaraan KTT Ke-19 pada 2027 kelak, dunia menantikan bagaimana Tiongkok akan mentransformasikan visi "Dekade Emas Ketiga" menjadi kebijakan konkret yang berpihak pada kesejahteraan bersama dan ketahanan ekonomi global.
Comments (0)