Suasana haru dan keprihatinan mendalam menyelimuti area posko pelayanan Ante Mortem dan Post Mortem Disaster Victim Identification (DVI) pada Minggu malam (13/9/2026). Di bawah sorotan lampu ruang pelayanan yang temaram namun dipenuhi kesibukan intensif, petugas kepolisian bersama tim medis gabungan secara maraton terus mendata sanak keluarga yang melaporkan anggota kerabat mereka yang hingga kini belum ditemukan akibat musibah massal tersebut.
Isak tangis sesekali pecah di sudut ruangan ketika pihak keluarga menyerahkan berbagai berkas penunjang identifikasi. Petugas dengan empati mendalam mencatat setiap detail informasi fisik yang disampaikan, mulai dari ciri-ciri khusus seperti tanda lahir atau tato, rekam medis, hingga pakaian terakhir yang dikenakan korban sebelum musibah terjadi. Pengumpulan data ante mortem ini menjadi fondasi paling krusial untuk dicocokkan secara ilmiah dengan data post mortem yang dihimpun dari jenazah yang berhasil dievakuasi.
Prosedur Identifikasi dan Pengumpulan Data Spesifik
Proses identifikasi korban bencana massal mengacu pada standar ketat International Criminal Police Organization (Interpol). Tim ahli yang terdiri dari dokter spesialis forensik, ahli odontologi (gigi), dan pakar DNA bekerja tanpa kenal lelah untuk mengurai setiap petunjuk sekecil apa pun demi memberikan kepastian status hukum serta keberadaan para korban.
"Proses identifikasi ini memerlukan ketelitian ekstra tinggi. Kami tidak boleh terburu-buru sebab akurasi ilmiah adalah yang utama. Setiap data medis, rekam gigi, hingga sampel DNA dari keluarga inti sangat menentukan untuk memberikan kepastian bagi pihak keluarga yang tengah menanti," ujar Kombes Pol Dr. Setiawan, Koordinator Tim DVI di lokasi penanganan.
Dalam rangka transparansi publik dan tertib administrasi, posko DVI mendokumentasikan serta memperbarui perkembangan data laporan masyarakat secara berkala. Berikut adalah rekapitulasi data penanganan di posko pelayanan hingga Minggu malam:
| Kategori Pelayanan DVI | Jumlah Laporan / Data | Keterangan Status Operasional |
|---|---|---|
| Laporan Keluarga (Ante Mortem) | 87 Berkas | Terdata & Sampel DNA Terambil |
| Jenazah Diterima (Post Mortem) | 45 Jenazah | Proses Pemeriksaan Autopsi Forensik |
| Korban Teridentifikasi | 19 Jenazah | Telah Diserahkan Kepada Keluarga |
Dukungan Psikososial dan Pendampingan Keluarga Korban
Tidak sekadar mengumpulkan data teknis medis dan fisik, petugas di posko juga menyiagakan tim dukungan medis darurat serta layanan pendampingan psikososial. Banyak dari keluarga korban yang datang dalam kondisi syok berat akibat ketidakpastian nasib anggota keluarga mereka.
Ketidakpastian menyelimuti setiap langkah keluarga, namun secercah harapan untuk mendapatkan kepastian kondisi orang-orang tercinta menjadi daya penguat utama di tengah duka yang mendalam. Pendampingan intensif dari tim psikolog kepolisian dan relawan kemanusiaan terus diberikan di area tunggu posko guna menjaga stabilitas emosional para keluarga selama proses pencocokan data berlangsung.
Pihak kepolisian mengimbau kepada seluruh masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga dalam insiden ini untuk segera mendatangi posko Ante Mortem. Warga diharapkan membawa dokumen pendukung seperti Kartu Keluarga, ijazah, rekam medis atau foto gigi, serta menyertakan keluarga kandung (orang tua atau anak) untuk pengambilan sampel DNA secara langsung. Langkah maraton ini dipastikan terus berlangsung hingga seluruh korban teridentifikasi secara tepat dan dapat dikembalikan kepada pihak keluarga dengan layak.
Comments (0)