Bisnis

The Fed Kerek Suku Bunga, Rupiah Melemah ke Level Rp17.705

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada awal perdagangan pagi ini. Berdasarkan data pasar spot valuta asing, mata uang

The Fed Kerek Suku Bunga, Rupiah Melemah ke Level Rp17.705

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada awal perdagangan pagi ini. Berdasarkan data pasar spot valuta asing, mata uang Garuda dibuka melemah hingga menyentuh level Rp17.705 per dolar AS. Penurunan performa rupiah terjadi secara langsung pasca-pengumuman kebijakan moneter terbaru dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), yang kembali menaikkan suku bunga acuan demi menekan laju inflasi.

Kenaikan suku bunga The Fed tersebut memicu lonjakan indeks dolar AS (DXY) di pasar global. Akibatnya, arus modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang (emerging markets) meningkat tajam, termasuk dari pasar keuangan domestik Indonesia.

Kronologi Pergerakan Pasar dan Tekanan Sentimen Global

Pelemahan rupiah pada sesi perdagangan hari ini merupakan respons berantai terhadap dinamika ekonomi global yang berlangsung selama 24 jam terakhir. Berikut adalah kronologi eskalasi tekanan terhadap mata uang domestik:

  1. Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC): The Fed secara resmi memutuskan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menyusul data inflasi AS yang masih berada di atas target target jangka panjang.
  2. Penguatan Indeks Dolar AS: Pernyataan bernada hawkish dari pimpinan The Fed mendorong indeks dolar menguat terhadap mata uang utama dunia lainnya, memicu peralihan aset investor ke instrumen safe haven berbasis greenback.
  3. Sentimen Negatif Pasar Regional Asia: Mayoritas mata uang di kawasan Asia, termasuk baht Thailand, ringgit Malaysia, dan won Korea Selatan, serentak tertekan di zona merah sejak pembukaan pasar regional.
  4. Pembukaan Pasar Spot Jakarta: Rupiah langsung terdepresiasi sebesar 45 poin atau sekitar 0,25 persen, membuka sesi perdagangan pada posisi Rp17.705 per dolar AS.
"Langkah agresif The Fed terus menyedot likuiditas global kembali ke Amerika Serikat. Hal ini memberikan tekanan langsung terhadap stabilitas nilai tukar negara berkembang, tak terkecuali rupiah yang rentan terhadap volatilitas jangka pendek," ungkap Analis Pasar Uang Terdepan.id.

Dampak Terhadap Perekonomian Domestik

Pelemahan nilai tukar hingga melampaui level psikologis baru berpotensi membawa dampak lanjutan bagi aktivitas ekonomi nasional. Sektor impor diperkirakan akan menanggung beban biaya pengadaan bahan baku yang lebih tinggi, yang pada gilirannya dapat memicu tekanan inflasi dari barang impor (imported inflation).

Untuk memitigasi risiko pemburukan lebih lanjut, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter guna menjaga stabilitas makroekonomi dan nilai tukar. Beberapa instrumen mitigasi utama meliputi:

  • Intervensi Pasar Berlapis: Pelaksanaan strategi triple intervention di pasar spot, pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pasar Surat Berharga Negara (SBN).
  • Optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI): Pemanfaatan instrumen moneter pro-pasar untuk menarik aliran masuk modal asing (capital inflow).
  • Penguatan Devisa Hasil Ekspor (DHE): Memastikan implementasi penempatan devisa hasil ekspor sumber daya alam di dalam negeri secara konsisten.

Pelaku pasar kini menanti langkah responsif lanjutan dari Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia untuk memastikan volatilitas nilai tukar tetap terkelola tanpa mengorbankan momentum pemulihan ekonomi nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User