Teknologi

Stres Perang Dorong Warga dan Tentara Rusia Melirik Sihir serta Hal Gaib

Fenomena yang tengah mencuat di Rusia belakangan ini bukanlah soal teknologi kecerdasan buatan (AI/artificial intelligence) atau inovasi deep tech terbaru. Justru, di tengah tekanan psikologis akibat ...

Stres Perang Dorong Warga dan Tentara Rusia Melirik Sihir serta Hal Gaib

Fenomena yang tengah mencuat di Rusia belakangan ini bukanlah soal teknologi kecerdasan buatan (AI/artificial intelligence) atau inovasi deep tech terbaru. Justru, di tengah tekanan psikologis akibat konflik berkepanjangan, sebagian warga sipil hingga personel militer negeri Beruang Merah itu disebut mulai melirik praktik sihir, perdukunan, dan hal-hal bernuansa gaib. Mengapa ini penting? Karena tren ini menjadi cermin bagaimana teknologi modern dan senjata canggih tidak selalu mampu menjawab kebutuhan emosional manusia ketika dilanda ketidakpastian ekstrem.

Ibarat seperti orang yang kehilangan sinyal ponsel di tengah hutan, banyak orang mencari "koneksi" lain yang dianggap bisa memberi rasa aman. Dalam kondisi stres berkepanjangan, naluri manusia sering kali mencari penjelasan di luar nalar logis—termasuk hal-hal yang bersifat mistis. Fenomena ini bukan sekadar cerita pinggir jalan, melainkan indikasi adanya tekanan sosial-psikologis yang nyata di sebuah negara yang sedang terlibat konflik berskala besar.

Mengapa Stres Ekstrem Membuat Orang Melirik Hal Gaib?

Secara ilmiah, ketika seseorang mengalami stres berat dalam waktu lama, otak cenderung mencari pola dan kendali atas situasi yang terasa kacau. Psikolog menyebutnya sebagai mekanisme koping (coping mechanism), yaitu cara seseorang bertahan menghadapi tekanan. Ketika doa, olahraga, atau hiburan digital tidak lagi cukup, sebagian orang beralih ke praktik spiritual alternatif yang menjanjikan perlindungan instan.

Praktik seperti meramal, membaca kartu tarot, hingga ritual perlindungan diri menjadi semacam "algoritma spiritual" yang sederhana: ada input berupa kekhawatiran, lalu ada output berupa rasa tenang. Bedanya dengan aplikasi kesehatan mental berbasis machine learning, sistem ini tidak butuh data besar—hanya keyakinan dan tradisi yang sudah mengakar.

“Ketika realitas terasa terlalu keras, manusia mencari narasi yang memberi harapan, bahkan jika narasi itu tidak bisa dibuktikan secara empiris,” ujar sejumlah pengamat perilaku sosial, menggambarkan pola yang kerap muncul di wilayah konflik.

Ekosistem Mistis yang Tumbuh di Tengah Ketidakpastian

Yang menarik, fenomena ini tidak muncul di ruang hampa. Ia tumbuh di atas ekosistem budaya yang memang telah lama memiliki akar kuat terhadap kepercayaan tradisional. Platform media sosial dan aplikasi perpesanan kemudian mempercepat penyebarannya, mirip cara kerja mesin rekomendasi yang menyajikan konten sesuai minat pengguna. Jika seseorang pernah menonton video tentang ramalan, algoritma platform akan menyodorkan konten serupa tanpa henti.

Inovasi digital yang seharusnya membawa efisiensi justru dalam beberapa kasus menjadi saluran disrupsi informasi: ramalan, jimat, hingga jasa "pembersihan energi" ditawarkan secara daring. Penelitian mengenai perilaku daring di wilayah terdampak konflik menunjukkan pola serupa—pencarian kata kunci bernuansa spiritual melonjak ketika ketegangan meningkat.

Faktor PemicuDampak pada IndividuBentuk Respons Sosial
Stres berkepanjangan akibat perangKecemasan, susah tidur, traumaPencarian perlindungan spiritual
Ketidakpastian ekonomi dan sosialRasa kehilangan kendaliKonsumsi konten mistis daring
Budaya lokal yang kuatKepercayaan pada ritualPraktik sihir dan perdukunan

Kebutuhan Nyata di Balik Tren yang Terlihat Tak Rasional

Alih-alih menertawakan fenomena ini, para peneliti sosial menilai ada kebutuhan mendesak yang belum terpenuhi: layanan kesehatan mental yang memadai. Implementasi dukungan psikologis di wilayah konflik sering kali tertinggal dibandingkan pengembangan persenjataan. Padahal, gangguan stres pascatrauma (PTSD/post-traumatic stress disorder) membutuhkan penanganan berbasis bukti, bukan sekadar ramuan atau jimat.

Di sinilah teknologi bisa berperan lebih besar. Platform konseling daring, aplikasi berbasis machine learning untuk skrining gejala stres, hingga program dukungan komunitas dapat menjadi jembatan. Sayangnya, akses dan stigma masih menjadi penghalang. Ketika layanan formal sulit dijangkau, praktik gaib pun menjadi pilihan yang terasa lebih dekat dan murah.

Pada akhirnya, tren sihir dan hal gaib di tengah konflik adalah alarm sosial. Ia menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis menyelesaikan persoalan batin manusia. Perlu pengembangan ekosistem kesehatan mental yang serius, bukan hanya inovasi di bidang alat dan senjata. Tanpa itu, pencarian pada hal-hal di luar nalar akan terus menjadi pelarian—bukan karena masyarakat kehilangan akal, tetapi karena mereka kehabisan tempat untuk bersandar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User