Bisnis

Ratusan Warga New York Berlomba Jadi Kembaran Wali Kota

Suasana riuh rendah dan penuh tawa mewarnai kawasan dekat Washington Square Park, New York, pada akhir pekan lalu. Bukan demo atau konser, melainkan sebuah

Ratusan Warga New York Berlomba Jadi Kembaran Wali Kota

Suasana riuh rendah dan penuh tawa mewarnai kawasan dekat Washington Square Park, New York, pada akhir pekan lalu. Bukan demo atau konser, melainkan sebuah kontes unik yang menyedot perhatian: lomba mencari sosok paling mirip dengan Wali Kota terpilih New York, Zohran Mamdani. Acara yang digelar oleh komunitas lokal ini berhasil mengumpulkan sembilan peserta pemberani yang rela berjam-jam berdandan dan berpose demi menyandang gelar “kembaran resmi” sang pemimpin kota.

Ratusan warga New York, mulai dari mahasiswa, pekerja kantoran, hingga keluarga dengan anak-anak, memadati area tersebut. Mereka datang bukan hanya untuk menonton, tetapi juga untuk memberikan dukungan kepada peserta favorit mereka. Sorak-sorai dan tepuk tangan tak henti bergemuruh setiap kali seorang peserta berhasil menirukan gaya khas Mamdani, seperti lambaian tangan atau ekspresi wajah serius ala politikus.

Kontes yang Lahir dari Kekaguman Warga

Menurut panitia acara, ide kontes ini berawal dari obrolan santai di media sosial yang kemudian viral. Banyak warga merasa bahwa Mamdani memiliki penampilan yang cukup khas—rambut ikal, kacamata bundar, dan sering mengenakan jas dengan dasi kupu-kupu. “Kami hanya iseng, tapi responnya luar biasa. Orang-orang mulai mengirim foto mereka yang mirip Mamdani, dan akhirnya kami memutuskan mengadakan acara nyata,” ujar Ryan Torres, koordinator acara.

“Ini bukan sekadar kontes ketampanan atau kemiripan fisik. Ini adalah perayaan demokrasi dan cara warga New York untuk mendekatkan diri dengan pemimpin mereka dengan cara yang menyenangkan,” kata Torres.

Acara ini juga menjadi ajang silaturahmi warga dari berbagai latar belakang. Di antara peserta, ada seorang bartender asal Brooklyn, seorang guru SD dari Queens, dan bahkan seorang mahasiswa pertukaran pelajar dari Indonesia yang penasaran dengan budaya kontes kembaran di Amerika.

Dandanan dan Teknik Meniru Sang Wali Kota

Para peserta tidak hanya mengandalkan kemiripan fisik. Mereka juga mempersiapkan kostum, aksesori, dan gerak tubuh yang meniru Mamdani. Salah satu peserta, Marcus Johnson, 34 tahun, mengaku sudah berlatih selama seminggu. “Saya menonton videonya berulang kali, terutama saat dia memberikan pidato. Saya harus bisa menirukan suaranya yang tegas tapi ramah,” ujar Marcus sembari memamerkan dasi kupu-kupu biru.

Kriteria penilaian meliputi tiga aspek utama:

  • Kemiripan wajah dan fisik (40 persen) - dievaluasi secara langsung oleh dewan juri.
  • Kostum dan aksesori (30 persen) - termasuk detail seperti dasi kupu-kupu, kacamata, dan gaya rambut.
  • Penampilan dan gaya berbicara (30 persen) - peserta harus berdialog atau memberikan pidato singkat ala Mamdani.

Para juri yang terdiri dari seniman teater, komika, dan seorang fotografer jalanan, memberikan penilaian dengan serius namun tetap penuh canda. Suasana semakin meriah ketika salah satu peserta melontarkan lelucon tentang kebijakan transportasi umum yang menjadi salah satu isu favorit Mamdani.

Peserta Kunci dan Pemenang

Setelah melalui babak penyisihan yang sengit, tiga finalis terpilih. Mereka adalah Daniel Kim (28), seorang barista asal Manhattan yang sangat mirip dengan Mamdani hingga detail kumis tipisnya; Luis Garcia (45), seorang sopir bus yang mengaku sering dikira Mamdani oleh penumpang; dan Aisha Patel (31), seorang desainer grafis yang juga seorang perempuan, tetapi berhasil tampil meyakinkan dengan setelan jas dan kacamata bundar.

Pemenang akhirnya diumumkan saat matahari mulai terbenam. Daniel Kim berhasil mengalahkan pesaingnya dan dianugerahi mahkota serta hadiah berupa voucher makan malam di restoran terkenal di New York. “Saya tidak percaya. Ini mimpi yang menjadi nyata. Saya hanya ingin membuat orang tertawa, tapi juga menghormati wali kota kami,” kata Daniel dengan wajah berseri.

Acara ditutup dengan foto bersama seluruh peserta dan warga, serta pesan singkat dari tim Wali Kota Mamdani yang diwakili asistennya. Dalam pesan tersebut, Mamdani menyampaikan apresiasinya kepada warga yang telah menggelar acara ini. “Ini adalah bukti bahwa politik tidak harus selalu kaku. New York adalah kota yang multikultural dan penuh kejutan,” ujar sang asisten membacakan pernyataan resmi.

Fenomena Kontes Kembaran Selebritas & Politisi

Kontes “kembaran” atau lookalike contest memang bukan hal baru di Amerika Serikat. Sebelumnya, kontes serupa juga pernah digelar untuk aktor Timothée Chalamet hingga musisi Harry Styles. Namun, kontes untuk tokoh politik seperti Zohran Mamdani tergolong jarang terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa Mamdani, yang dikenal sebagai politikus muda progresif, berhasil menciptakan kedekatan personal dengan konstituennya.

Menurut sosiolog urban dari City University of New York, Prof. Linda Park, acara seperti ini dapat memperkuat identitas komunitas. “Ketika warga rela berdandan dan bersaing untuk mirip dengan pemimpin mereka, itu artinya ada rasa bangga dan rasa memiliki terhadap figur publik tersebut. Ini adalah bentuk partisipasi politik alternatif yang sehat,” jelasnya.

“Selama ini kita sering melihat politik melalui lensa serius dan konflik. Kontes seperti ini mengingatkan bahwa politik juga bisa menjadi sumber hiburan dan kebersamaan,” kata Park.

Ke depannya, panitia berencana mengadakan kontes serupa setiap tahun, terutama jika Mamdani kembali terpilih. Beberapa peserta bahkan sudah mendaftar untuk gelaran tahun depan. Sementara itu, pemenang Daniel Kim mengaku akan menggunakan ketenaran barunya untuk mengkampanyekan isu lingkungan, yang juga menjadi salah satu fokus utama Zohran Mamdani.

Tanggapan Warga dan Pesan Inklusivitas

Banyak warga yang mengapresiasi suasana inklusif dalam acara ini. Tidak peduli latar belakang ras, jenis kelamin, atau usia, semua bisa ikut serta. Bahkan peserta perempuan seperti Aisha Patel mendapat dukungan besar karena berani menembus stereotip. “Saya ingin menunjukkan bahwa kemiripan bukan hanya soal gender. Yang penting adalah semangat dan karakter,” ujar Aisha.

Seorang warga lanjut usia, Martha Collins, 72 tahun, mengatakan bahwa ini adalah acara paling menghibur yang pernah ia saksikan dalam beberapa tahun terakhir. “New York terkenal dengan segalanya yang serba cepat dan serius. Tapi hari ini kami hanya tertawa dan bersenang-senang. Ini yang kami butuhkan,” katanya.

Fenomena ini juga menyebar cepat di media sosial. Tagar #MamdaniDoppelganger sempat menjadi trending di Manhattan selama beberapa jam. Banyak warganet yang mengunggah foto dan video lucu dari kontes tersebut, termasuk aksi seorang peserta yang berjalan layaknya seorang politisi sambil melambaikan tangan ke arah kerumunan.

Kesimpulan

Kontes pencari kembaran Wali Kota Zohran Mamdani sukses menjadi tontonan yang menghibur sekaligus mempererat tali persaudaraan warga New York. Lebih dari sekadar lomba, acara ini mencerminkan demokrasi yang hidup, partisipasi publik yang kreatif, serta kemampuan warga untuk merayakan sosok pemimpin dengan cara yang unik dan penuh tawa. Meskipun hanya berlangsung sehari, kenangan tentang sembilan peserta yang bersaing menjadi “Zohran Mamdani kedua” akan terus dikenang oleh siapa pun yang hadir di Washington Square Park pada hari itu.