Bayangkan rumah, sawah, dan kuil tempat leluhur dimakamkan tiba-tiba hilang di bawah genangan air. Itulah yang mengancam ratusan keluarga suku di Ajaygarh, Madhya Pradesh, India, akibat proyek ambisius senilai US$87 miliar atau sekitar Rp1.400 triliun. Proyek ini dirancang untuk mengatasi kekeringan berkepanjangan, tetapi ironisnya justru menenggelamkan permukiman warga. Mengapa ini penting? Karena kasus ini menunjukkan bahwa teknologi dan infrastruktur besar tidak selalu membawa solusi tanpa korban. Ketika rekayasa air berskala raksasa bertabrakan dengan hak hidup masyarakat adat, pertanyaannya bukan lagi soal efisiensi teknis, melainkan keadilan sosial dan keberlanjutan ekosistem.
Mengenal Proyek Ken Betwa: Solusi atau Bencana?
Proyek Ken Betwa merupakan tahap awal dari program ambisius yang disebut National River Linking Project (NRLP) atau proyek penghubung sungai nasional. Secara sederhana, NRLP adalah upaya pemerintah India untuk memindahkan air dari sungai yang dianggap berlimpah ke sungai yang kekeringan. Ibarat seperti memindahkan air dari ember penuh ke ember kosong melalui pipa raksasa—hanya saja skala embernya adalah sungai selebar ratusan meter dan panjangnya mencapai ratusan kilometer. Proyek ini melibatkan pembangunan kanal, bendungan, dan reservoir yang menelan biaya fantastis. Menurut data pemerintah, NRLP totalnya menelan dana sekitar US$87 miliar dan diperkirakan selesai dalam beberapa dekade.
Ken Betwa sendiri menghubungkan Sungai Ken di Madhya Pradesh dengan Sungai Betwa di Uttar Pradesh. Tujuannya mulia: menyediakan irigasi bagi lahan pertanian yang selama ini bergantung pada musim hujan, serta memasok air bersih bagi jutaan penduduk. Namun, implementasi di lapangan tidak semulus desain di atas kertas. Pembangunan bendungan Daudhan, salah satu komponen utama, akan menaikkan permukaan air hingga menenggelamkan kawasan Taman Nasional Panna—rumah bagi spesies harimau Bengal yang dilindungi—dan desa-desa di sekitarnya, termasuk Ajaygarh.
Warga Suku Ajaygarh: Antara Pembangunan dan Kehilangan Identitas
Bagi warga suku di Ajaygarh, proyek ini bukan sekadar soal pindah rumah. Kuil-kuil kuno, makam leluhur, dan hutan yang menjadi sumber penghidupan mereka terancam hilang. “Kami tidak menolak pembangunan, tetapi kami menolak dihapus dari peta,” ujar seorang perwakilan warga dalam aksi protes yang dihadiri ratusan orang. Mereka menuntut kompensasi yang layak, relokasi yang manusiawi, serta jaminan bahwa situs budaya mereka tidak tenggelam begitu saja.
Protes ini bukan yang pertama. Sejak proyek diumumkan bertahun-tahun lalu, gelombang penolakan terus muncul dari berbagai kalangan, termasuk organisasi lingkungan dan aktivis hak asasi manusia. Mereka menyoroti analisis dampak lingkungan yang dinilai lemah, terutama terkait keanekaragaman hayati. Taman Nasional Panna adalah salah satu ekosistem paling kaya di India. Jika bendungan dibangun, habitat harimau dan satwa lain akan terfragmentasi. Populasi harimau yang telah dipulihkan dengan susah payah melalui program konservasi berisiko kembali menurun.
Di sisi lain, pemerintah berargumen bahwa proyek ini adalah jawaban atas krisis air yang semakin parah akibat perubahan iklim. Data menunjukkan bahwa beberapa wilayah di India mengalami kekeringan ekstrem dalam dekade terakhir, sementara wilayah lain justru dilanda banjir. Pendekatan penghubung sungai dianggap sebagai cara paling efektif untuk mendistribusikan air secara merata. Namun, para kritikus menilai solusi ini terlalu simplistik. Mereka mencontohkan bahwa teknologi irigasi tetes dan pemanenan air hujan bisa menjadi alternatif yang lebih murah, cepat, dan tidak mengorbankan permukiman.
Tantangan Implementasi dan Pelajaran bagi Dunia
Kasus Ken Betwa bukan hanya persoalan lokal India. Ini adalah cerminan dari dilema global: bagaimana menyeimbangkan kebutuhan pembangunan dengan hak masyarakat adat dan pelestarian lingkungan. Di banyak negara, proyek infrastruktur besar sering kali gagal karena mengabaikan suara masyarakat lokal. Padahal, partisipasi warga dalam perencanaan dapat menghasilkan desain yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Dari sisi teknologi, ada pelajaran penting tentang keterbatasan rekayasa besar. Algoritma hidrologi dan model prediksi cuaca memang canggih, tetapi tidak dapat menggantikan nilai budaya dan ekologis yang melekat pada suatu kawasan. Pendekatan berbasis ekosistem, seperti restorasi daerah aliran sungai dan pengelolaan air terdesentralisasi, menawarkan jalur yang lebih ramah lingkungan.
Hingga kini, nasib warga Ajaygarh masih menggantung. Proyek Ken Betwa terus berjalan, sementara protes dan negosiasi belum menemui titik terang. Yang jelas, kisah ini menjadi pengingat bahwa inovasi tanpa keadilan hanya akan menciptakan disrupsi sosial. Teknologi seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan kesejahteraan, bukan sebaliknya. Jika tidak, kita hanya akan mengulang sejarah kelam pembangunan yang mengorbankan yang lemah demi yang kuat.
Comments (0)