PT Pertamina (Persero) melalui subholding komersial dan ritel, PT Pertamina Patra Niaga, secara intensif mematangkan kesiapan rantai pasok dan sarana infrastruktur penyaluran bensin E20. Langkah strategis ini disiapkan menyusul peta jalan pemerintah yang menargetkan implementasi bauran bioetanol sebesar 20 persen (E20) ke dalam seluruh produk bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin secara menyeluruh pada 2028 mendatang.
Penerapan bahan bakar rendah emisi ini diproyeksikan menjadi tonggak penting dalam transisi energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor minyak mentah dan bahan bakar fosil murni.
Kronologi dan Roadmap Implementasi Bioetanol
Upaya integrasi bioetanol ke dalam bauran energi nasional dilaksanakan melalui sejumlah tahapan terukur guna memastikan kesiapan operasional dari hulu hingga hilir:
- Fase Uji Coba Terbatas (2023–2024): Pertamina meluncurkan produk Pertamax Green 95 dengan bauran bioetanol 5 persen (E5) di wilayah Jakarta dan Surabaya sebagai proyek percontohan awal pengenalan pasar.
- Fase Ekspansi Penyaluran (2025–2026): Perluasan distribusi BBM E5 ke berbagai kota besar lainnya di Pulau Jawa sembari memperkuat kapasitas penyimpanan dan fasilitas blending bioetanol di terminal BBM utama.
- Fase Peningkatan Bauran dan Skalabilitas (2027): Uji teknis dan penyesuaian infrastruktur untuk menampung bauran bioetanol yang lebih tinggi (E10 hingga E20), melibatkan pengujian kompatibilitas mesin kendaraan secara komprehensif.
- Fase Implementasi Penuh Bensin E20 (2028): Penyelarasan seluruh infrastruktur rantai pasok nasional, depot, dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk menyalurkan bensin berbauran E20 sesuai regulasi wajib pemerintah.
"Persiapan infrastruktur terus kami lakukan seiring dengan rencana pemerintah yang menetapkan pemanfaatan etanol pada seluruh produk bensin pada tahun 2028," ujar Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto.
Penguatan Infrastruktur dari Terminal hingga SPBU
Karakteristik bioetanol yang memiliki sifat menyerap air memerlukan modifikasi teknis khusus pada sarana penyimpanan dan distribusi. Pertamina Patra Niaga saat ini memprioritaskan penyesuaian pada tangki penimbunan di Fuel Terminal, sistem pipa penyaluran, fasilitas pencampuran otomatis (inline blending system), hingga tangki pendam dan dispenser di SPBU.
Kesiapan teknis ini mencakup beberapa fokus utama:
- Peningkatan Kualitas Tangki Timbun: Penerapan pelapis antikorosi khusus dan sistem isolasi kelembapan di seluruh terminal bahan bakar.
- Fasilitas Blending Presisi: Pemasangan teknologi pencampuran modern untuk memastikan homogenitas rasio bensin dan etanol secara akurat.
- Sertifikasi Dispenser SPBU: Audit dan penggantian komponen nozel serta pipa karet dispenser di ribuan SPBU agar kompatibel dengan formula E20.
Dukungan Pasokan Bahan Baku dan Manfaat Ekonomi
Keberhasilan implementasi bensin E20 pada 2028 sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku bioetanol berbasis tetes tebu (molase) maupun singkong di dalam negeri. Pemerintah bersama BUMN perkebunan tengah menggenjot hilirisasi sektor pertanian guna menjamin suplai etanol berkualitas fuel grade berstandar 99,5 persen.
Selain mampu menekan emisi gas buang karbon monoksida hingga 15–20 persen, adopsi E20 diharapkan menghemat devisa negara miliaran dolar AS dari penurunan kuota impor bensin, sekaligus membuka lapangan kerja baru di sektor agroindustri energi terbarukan.
Comments (0)