Teknologi

Pertamina Perluas 269 Program Desa Energi Berdikari hingga 2026

Listrik yang menyala begitu saklar ditekan sering dianggap hal biasa oleh warga kota. Namun bagi ribuan keluarga di pelosok negeri, ketersediaan energi masih menjadi persoalan harian yang menentukan n...

Pertamina Perluas 269 Program Desa Energi Berdikari hingga 2026

Listrik yang menyala begitu saklar ditekan sering dianggap hal biasa oleh warga kota. Namun bagi ribuan keluarga di pelosok negeri, ketersediaan energi masih menjadi persoalan harian yang menentukan nasib ekonomi mereka. Kini pertanyaannya bukan sekadar apakah desa bisa dialiri listrik, melainkan apakah desa mampu mengelola sumber energinya sendiri. Jawaban atas persoalan itulah yang sedang diuji melalui perluasan Program Desa Energi Berdikari (DEB) yang digarap hingga mencapai 269 program pada 2026.

Mengapa ini penting? Karena energi adalah fondasi hampir semua aktivitas ekonomi. Ibarat seperti dapur rumah tangga: selama gas dan listrik mengalir, keluarga bisa memasak, bekerja, dan menghasilkan. Begitu pasokan terputus, seluruh roda kehidupan ikut berhenti. Di tingkat desa, logika yang sama berlaku pada skala lebih besar, mulai dari UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah), pengolahan hasil pertanian, hingga layanan kesehatan dasar yang semuanya bergantung pada energi yang stabil dan terjangkau.

Apa Itu Desa Energi Berdikari

DEB adalah inisiatif pengembangan berbasis inovasi energi yang memposisikan desa bukan sekadar konsumen, melainkan pengelola sekaligus produsen energi. Fokus utamanya adalah pemanfaatan EBT (Energi Baru Terbarukan), yaitu sumber energi yang terus terisi kembali secara alami seperti sinar matahari, aliran air, biomassa, dan angin. Ibarat seperti menabung: energi fosil ibarat saldo rekening yang lama-lama habis, sementara energi terbarukan ibarat bunga yang terus tumbuh selama pohonnya dirawat.

Dalam implementasinya, teknologi yang umum dipasang mencakup panel surya fotovoltaik untuk mengubah cahaya matahari menjadi listrik, instalasi biogas dari limbah ternak untuk kebutuhan memasak, serta pembangkit mikrohidro di desa yang memiliki aliran sungai. Setiap unit dirancang agar warga dilibatkan sejak awal, mulai dari perencanaan, pembangunan, hingga pemeliharaan harian.

Dari Konsumen Menjadi Produser Energi

Perubahan paling mendasar dari program ini sebenarnya bukan pada panel yang terpasang, melainkan pada pergeseran peran masyarakat. Ibarat seperti bedanya membeli sayur di pasar dengan menanam sendiri di pekarangan: keduanya mengisi perut, tetapi yang kedua menciptakan kemandirian jangka panjang. Desa pada dasarnya bertransformasi menjadi platform energi mandiri yang menyalurkan listrik ke rumah warga, mendukung penggilingan padi, hingga menyediakan daya bagi usaha kerajinan lokal.

Di titik inilah ekosistem ekonomi desa mulai berputar. Listrik yang stabil membuka peluang penyimpanan hasil panen dengan pendingin, memperpanjang jam operasional bengkel dan warung, serta menurunkan biaya usaha kecil. Efisiensi energi pada akhirnya berbanding lurus dengan efisiensi ekonomi. Agar berkelanjutan, pengelolaan menuntut tata kelola yang rapi: badan usaha atau koperasi desa umumnya dilatih mengelola aset, memungut iuran perawatan, dan merawat peralatan agar usia pakai teknologinya lebih panjang.

Tantangan Implementasi di Lapangan

Meski menjanjikan, jalan menuju desa yang berdikari energi tidak bebas rintangan. Pertama, soal pemeliharaan: panel surya yang kotor atau baterai yang rusak bisa mematikan seluruh sistem bila tidak ada teknisi lokal. Kedua, soal kapasitas manusia, karena pengetahuan teknis harus ditransfer agar desa tidak bergantung pada teknisi dari kota. Ketiga, soal keberlanjutan finansial, sebab peralatan energi membutuhkan dana perawatan berkala yang tidak boleh berhenti di tengah jalan.

Berbagai penelitian dan pengalaman program energi desa di sejumlah negara menunjukkan pola yang konsisten: keberhasilan jangka panjang lebih banyak ditentukan oleh keterlibatan warga daripada kecanggihan teknologinya. Ibarat seperti memberi sepeda kepada seseorang, sepedanya bagus, tetapi tanpa ada yang bisa dan mau mengganti ban yang kempes, sepeda itu lambat laun terbengkalai.

Outlook: Disrupsi Energi dari Bawah

Target 269 program hingga 2026 menandakan pembangkitan energi desa kini diperlakukan sebagai agenda berkelanjutan, bukan proyek seremonial. Jika pola pengelolaannya berhasil direplikasi, Indonesia bisa menyaksikan semacam disrupsi energi dari bawah: ribuan titik kecil yang bersama-sama mengurangi ketergantungan pada pasokan terpusat sekaligus menekan emisi karbon.

Bagi masyarakat awam, pesan praktisnya sederhana. Energi terbarukan bukan lagi wacana seminar atau jargon konferensi iklim, melainkan teknologi yang bisa dilihat di atap balai desa dan dirasakan saat lampu belajar anak tetap menyala di malam hari. Perjalanan menuju 2026 akan menjadi ujian nyata: apakah desa-desa ini benar-benar mampu berdiri di atas kakinya sendiri, atau hanya sementara berpijak pada bantuan dari luar. Jawabannya akan menentukan wajah ketahanan energi Indonesia di wilayah pedesaan untuk dekade berikutnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User