Teknologi

Pemerintah Andalkan AI dan Data Center demi Ekonomi Tumbuh 8 Persen

Target pertumbuhan ekonomi 8 persen bukan sekadar angka di atas kertas. Di baliknya tersimpan ambisi menciptakan jutaan lapangan kerja baru, menaikkan daya beli masyarakat, dan membawa Indonesia kelua...

Pemerintah Andalkan AI dan Data Center demi Ekonomi Tumbuh 8 Persen

Target pertumbuhan ekonomi 8 persen bukan sekadar angka di atas kertas. Di baliknya tersimpan ambisi menciptakan jutaan lapangan kerja baru, menaikkan daya beli masyarakat, dan membawa Indonesia keluar dari jerat negara berpenghasilan menengah. Pertanyaannya, dari mana pertumbuhan itu akan berasal? Jawaban pemerintah cukup tegas: dari transformasi digital. Tiga teknologi ditetapkan sebagai fondasi utama, yaitu AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan), data center (pusat data), dan semikonduktor (bahan baku pembuatan chip).

Ibarat seperti mengganti mesin lama dengan mesin turbo, transformasi digital diyakini mampu mempercepat laju perekonomian yang selama ini bertumpu pada ekspor bahan mentah dan konsumsi rumah tangga. Namun, jalan menuju target itu tidak mulus. Dibutuhkan infrastruktur, talenta, dan regulasi yang matang agar teknologi benar-benar menyentuh kehidupan nyata, bukan sekadar wacana di ruang rapat.

Mengapa Transformasi Digital Menjadi Jalan Baru

Ekonomi dunia sedang bergeser. Nilai tambah saat ini lahir dari data dan algoritma, bukan hanya dari sumber daya alam. Konsultan global PwC memproyeksikan bahwa kecerdasan buatan berpotensi menambah sekitar US$15,7 triliun ke ekonomi dunia pada 2030. Angka itu bahkan lebih besar dari gabungan produk domestik bruto (PDB) sejumlah negara maju. Artinya, negara yang paling siap memanfaatkan teknologi ini akan paling diuntungkan.

Indonesia sendiri memiliki modal yang tidak kecil. Populasi produktifnya besar, penetrasi internet terus naik, dan ekosistem startup (perusahaan rintisan) tumbuh pesat. Sejumlah lembaga riset memperkirakan nilai ekonomi digital Indonesia mampu menembus US$130 miliar dalam beberapa tahun ke depan, menjadikannya pasar digital terbesar di Asia Tenggara. Namun, peluang itu hanya menjadi kenyataan bila infrastruktur pendukungnya dibangun secara serius dan berkelanjutan.

Tiga Fondasi: AI, Data Center, dan Semikonduktor

AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan) bukan lagi barang mewah. Teknologi ini membantu pemerintah dan swasta membaca data dalam jumlah besar, menekan biaya operasional, dan meningkatkan produktivitas. Dalam layanan publik, AI bisa mempercepat antrean administrasi, mendeteksi dini penyebaran penyakit, hingga membantu petani menentukan pola tanam. Semakin banyak data yang dikelola, semakin cerdas pula keputusan yang dihasilkan.

Data center (pusat data) berperan seperti gudang raksasa tempat semua layanan digital disimpan. Mulai dari transaksi e-commerce (perdagangan elektronik), perbankan, hingga layanan e-government (pemerintahan elektronik) membutuhkan tempat penyimpanan yang aman dan cepat. Pemerintah juga mendorong data warga disimpan di dalam negeri demi kedaulatan data. Konsekuensinya, kebutuhan listrik menjadi besar, sehingga pasokan energi yang andal menjadi syarat mutlak.

Semikonduktor adalah otak dari semua perangkat digital. Krisis chip global beberapa tahun lalu membuktikan betapa pentingnya komponen ini: produksi mobil, ponsel, dan peralatan elektronik ikut terganggu karena kelangkaan pasokan. Indonesia berpeluang masuk ke rantai pasok dunia, terutama pada tahap pengemasan dan pengujian chip, yang membutuhkan banyak tenaga kerja terampil.

Pekerjaan Rumah: Talenta, Energi, dan Regulasi

Tanpa talenta, infrastruktur secanggih apa pun akan sia-sia. Profesi seperti data scientist (ilmuwan data) dan machine learning engineer (insinyur pembelajaran mesin) masih langka di dalam negeri. Karena itu, pendidikan vokasi dan kurikulum berbasis teknologi perlu diperluas agar lulusan siap diserap industri.

Di sisi energi, pusat data dikenal boros listrik. Untuk menjaga efisiensi biaya, pemerintah dan pelaku industri perlu mengoptimalkan energi terbarukan. Sementara itu, dari sisi regulasi, Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) yang sudah berlaku perlu diikuti standar keamanan siber yang tegas, sehingga kepercayaan publik dan investor terjaga.

Apa Artinya bagi Masyarakat

Jika ketiga fondasi ini terbangun, dampaknya terasa langsung di kehidupan sehari-hari. Layanan publik menjadi lebih cepat, UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) bisa naik kelas lewat platform digital, dan terbuka lapangan kerja baru di bidang teknologi. Pendidikan dan layanan kesehatan juga bisa menjangkau daerah terpencil melalui solusi berbasis AI.

Namun, kesenjangan digital tetap menjadi catatan. Wilayah dengan infrastruktur internet yang belum merata bisa tertinggal. Karena itu, transformasi digital harus dibarengi pemerataan jaringan dan literasi digital masyarakat. Hanya dengan cara itu, pertumbuhan 8 persen bukan sekadar target pemerintah, melainkan juga kenyataan yang dirasakan seluruh rakyat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User