Teknologi

Menkomdigi Hentikan Proyek Data Center, Ingatkan Krisis Air dan Energi

Keputusan pemerintah menghentikan sementara pembangunan fasilitas pusat data BDx bukan sekadar persoalan satu perusahaan. Ini adalah sinyal bahwa pembangunan infrastruktur digital di Indonesia mulai d...

Menkomdigi Hentikan Proyek Data Center, Ingatkan Krisis Air dan Energi

Keputusan pemerintah menghentikan sementara pembangunan fasilitas pusat data BDx bukan sekadar persoalan satu perusahaan. Ini adalah sinyal bahwa pembangunan infrastruktur digital di Indonesia mulai diimbangi dengan pertanyaan paling sederhana sekaligus paling mengganggu: dari mana listrik dan air bersihnya?

Bagi masyarakat awam, mungkin terdengar teknis. Padahal dampaknya langsung terasa di rumah. Setiap kali kita membuka aplikasi, menonton video, atau memakai layanan kecerdasan buatan, permintaan itu diproses di server yang membutuhkan listrik besar dan pendinginan konstan. Ibarat seperti membangun dapur raksasa di tengah kota: asapnya belum tentu terlihat, tapi tagihan gas dan pasokan air warga sekitar bisa ikut terkonsumsi.

Pemicu Penghentian Proyek

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan bahwa pembangunan pusat data harus memperhatikan keseimbangan dengan kebutuhan energi dan air masyarakat sekitar. Pesan intinya bukan menolak teknologi, melainkan menuntut perhitungan matang sebelum beton dituang dan kabel fiber optik ditarik.

Pusat data atau data center adalah bangunan berisi ribuan server yang menyimpan dan memproses data. Fasilitas ini bekerja 24 jam tanpa henti. Server yang bekerja menghasilkan panas dalam jumlah besar. Jika panas tidak dibuang, komponen bisa rusak dalam hitungan menit. Oleh karena itu, sistem pendingin menjadi nyawa kedua gedung ini.

Sistem pendingin konvensional mengandalkan penguapan air. Konsepnya sederhana: air menguap, panas ikut terbawa, suhu ruangan turun. Masalahnya, penguapan berarti air hilang begitu saja dari siklus lokal. Sebuah pusat data berskala besar bisa menghabiskan jutaan liter air per hari, setara dengan kebutuhan air harian ribuan rumah tangga.

Di sisi lain, pasokan listrik menjadi tantangan kedua. Badan Energi Internasional (IEA/International Energy Agency) memproyeksikan konsumsi listrik pusat data global melonjak dari sekitar 460 terawatt jam (TWh) pada 2022 menjadi rentang 620 hingga 1.050 TWh pada 2026. Untuk konteks, satu terawatt jam sama dengan satu miliar kilowatt jam. Angka setinggi itu menunjukkan bahwa kebutuhan pusat data tumbuh jauh lebih cepat dibanding efisiensi perangkatnya.

Energi dan Air: Dua Sisi Mata Uang

Teknologi kini berkembang dengan kecepatan yang mengejar dirinya sendiri. Model kecerdasan buatan (AI/artificial intelligence) yang populer, misalnya, menuntut komputasi berat. Riset internal sebuah perusahaan teknologi pernah mengungkap bahwa satu permintaan teks rata-rata menghabiskan sekitar 0,24 watt jam listrik. Terdengar kecil, sampai Anda kalikan dengan miliaran permintaan per hari.

Berikut perbandingan sederhana kebutuhan operasional pusat data:

Energi listrik digunakan untuk menjaga server tetap menyala, jaringan tetap terhubung, dan lampu indikator berkedip tanpa henti. Air bersih digunakan untuk sistem pendingin evaporatif, panel penyebaran panas, hingga kebutuhan dasar karyawan. Keduanya tidak bisa dipisahkan; mengurangi satu tanpa menghitung yang lain hanya memindahkan masalah.

Pemerintah sebenarnya punya alasan kuat mendorong pusat data. Indonesia adalah pasar digital terbesar di Asia Tenggara, dengan lebih dari 200 juta pengguna internet. Kebutuhan penyimpanan data di dalam negeri juga tumbuh karena aturan kepemilikan data yang semakin ketat. Namun, kapasitas jaringan listrik nasional dan ketersediaan air di sejumlah wilayah tidak bisa dianggap tak terbatas.

Jalan Tengah: Efisiensi Sebelum Ekspansi

Solusinya bukan berhenti membangun, melainkan membangun dengan rasio efisiensi yang jauh lebih baik. Salah satu ukurannya adalah PUE (Power Usage Effectiveness/rasio efisiensi daya). PUE 1,0 berarti seluruh listrik masuk dipakai server; PUE 2,0 berarti separuhnya terbuang untuk pendingin dan konversi daya. Rata-rata pusat data global masih berada di kisaran 1,5โ€“1,6, sementara fasilitas modern menargetkan mendekati 1,1.

Teknologi pendingin cair, misalnya, memungkinkan panas dibuang lebih efektif dengan konsumsi air jauh lebih sedikit. Beberapa operator bahkan memanfaatkan panas buangan tersebut untuk menghangatkan gedung sekitar atau mengeringkan hasil pertanian. Ibarat seperti kompor hemat gas yang api panasnya tetap kuat, tapi gas yang terpakai tinggal setengahnya.

Penghentian proyek BDx oleh Kementerian Komunikasi dan Digital pada dasarnya adalah permintaan evaluasi: berapa banyak listrik yang tersedia, berapa banyak air yang bisa dialokasikan, dan siapa yang menanggung kekurangannya jika ternyata berlebih.

Disrupsi digital memang tak bisa dielakkan. Namun inovasi yang sehat selalu berangkat dari kenyataan di lapangan, bukan dari optimisme angka presentasi. Bagi pengguna akhir, artinya sederhana: layanan digital tetap cepat, tagihan rumah tangga tetap wajar, dan air keran tetap mengalir.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lidia-susanto

Reporter Olahraga Wanita. Fokus pada atlet perempuan dan kesetaraan gender dalam olahraga.

Comments (0)

User