MANILA — Senator Filipina Loren Legarda menegaskan pentingnya menempatkan kemampuan literasi sebagai fondasi utama dalam agenda pemulihan sistem pendidikan nasional. Pernyataan tersebut disampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Literasi Internasional (International Literacy Day), menyusul tantangan besar berupa krisis penurunan kemampuan belajar yang masih membayangi peserta didik pascapandemi.
Legarda menekankan bahwa kemampuan membaca dengan pemahaman komprehensif merupakan prasyarat mutlak bagi keberhasilan akademis anak serta penentu peluang masa depan mereka di era globalisasi yang semakin kompetitif.
"Pembelajaran bermula dari kemampuan membaca. Ketika seorang anak memahami apa yang dibacanya, mereka akan lebih mampu menyerap ilmu pengetahuan, berpikir kritis, dan mengembangkan potensi diri secara maksimal," ujar Senator Legarda dalam keterangan resminya di Manila.
Krisis Kemampuan Membaca dan Urgensi Pemulihan
Peringatan Hari Literasi Internasional tahun ini menjadi momentum refleksi mendalam bagi Filipina. Berbagai laporan internasional, termasuk data dari Bank Dunia dan Komisi Pendidikan Nasional Filipina (EDCOM II), sebelumnya menyoroti tingginya tingkat learning poverty di negara tersebut, di mana mayoritas anak usia 10 tahun mengalami kesulitan membaca dan memahami teks sederhana.
Kondisi defisit pembelajaran yang diperparah oleh penutupan sekolah berkepanjangan selama pandemi COVID-19 menuntut tindakan terstruktur. Menurut Legarda, program pemulihan tidak bisa berjalan efektif jika kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung (calistung) tidak dibenahi sejak jenjang pendidikan usia dini dan dasar.
Langkah Strategis Penguatan Literasi Nasional
Untuk mengatasi kesenjangan kemampuan literasi secara terstruktur, Senator Legarda menguraikan peta jalan kebijakan yang perlu diakselerasi oleh pemerintah bersama pemangku kepentingan:
- Revitalisasi Kurikulum Pendidikan Dasar: Menitikberatkan kurikulum awal pada penguasaan bahasa ibu dan keterampilan membaca kritis sebelum beralih ke materi pembelajaran yang lebih kompleks.
- Peningkatan Kualitas dan Pelatihan Guru: Mengalokasikan anggaran khusus untuk pelatihan berkelanjutan bagi para pendidik dalam menerapkan metode pengajaran literasi yang efektif dan inklusif.
- Penyediaan Akses Bahan Bacaan Berkualitas: Memperbanyak pengadaan buku cerita ramah anak di perpustakaan sekolah maupun sudut baca komunitas di tingkat barangay (desa).
- Penguatan Asesmen dan Intervensi Terarah: Menjalankan evaluasi berkala guna mengidentifikasi siswa yang tertinggal dan menyediakan program bimbingan membaca intensif di luar jam pelajaran reguler.
Kolaborasi Multisektor Menuju Transformasi Pendidikan
Legarda yang juga dikenal vokal dalam isu anggaran publik menyatakan komitmennya di Kongres untuk mengawal pendanaan sektor pendidikan agar tepat sasaran. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab literasi tidak semata bertumpu pada Kementerian Pendidikan, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif pemerintah daerah, komunitas, sektor swasta, dan keluarga.
Lingkungan rumah, menurutnya, memegang peran penting dalam menumbuhkan budaya membaca. Orang tua didorong untuk menyediakan waktu membaca bersama anak di rumah guna membangun kebiasaan literasi sejak dini.
Dengan menempatkan literasi di pusat reformasi sistem pembelajaran, Filipina diharapkan mampu mengejar ketertinggalan dan mencetak generasi muda yang berdaya saing tinggi serta siap menghadapi transformasi digital global.
Comments (0)