Bisnis

Kalbar Diselimuti Asap Karhutla, Warga Kubu Raya Gunakan Oksigen Tambahan

Langit di atas Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, tak lagi memancarkan warna biru cerah. Sebaliknya, tirai kelabu pekat bertaut rapat membatasi jarak p

Kalbar Diselimuti Asap Karhutla, Warga Kubu Raya Gunakan Oksigen Tambahan

Langit di atas Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, tak lagi memancarkan warna biru cerah. Sebaliknya, tirai kelabu pekat bertaut rapat membatasi jarak pandang dan mengurung pemukiman warga dalam pekatnya asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Aroma sangit kayu terbakar menghujam indera penciuman sejak pagi hingga malam hari, membawa penderitaan nyata bagi ribuan jiwa yang menggantungkan hidupnya di kawasan pesisir dan lahan gambut tersebut. Udara yang seharusnya menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi ancaman mematikan yang merayap ke dalam paru-paru penduduk.

Kondisi krisis kualitas udara ini memaksa tim relawan kemanusiaan dan petugas medis turun langsung ke pemukiman warga. Dengan membawa tabung-tabung oksigen portabel dan masker medis berstandar tinggi, para relawan bergerak cepat menghampiri warga yang mulai menunjukkan gejala sesak napas berat. Pemandangan pilu terlihat saat anak-anak balita hingga lansia harus bergantung pada selang oksigen demi bisa bernapas dengan lega di teras rumah mereka sendiri.

Krisis Kesehatan akibat Karhutla yang Kian Meluas

Kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Kubu Raya, telah mencapai level yang sangat memprihatinkan. Lahan gambut yang kering di musim kemarau menjadi pemicu utama cepatnya penyebaran api yang sulit dipadamkan. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), luas area yang terdampak telah mencapai lebih dari 2.500 hektar dalam beberapa pekan terakhir, memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga 300 persen di fasilitas kesehatan setempat.

Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di sejumlah titik di Kubu Raya dan sekitarnya berada pada kategori SANGAT TIDAK SEHAT hingga BERBAHAYA, dengan konsentrasi partikulat PM2.5 menembus angka di atas 300 µg/m³. Angka ini melampaui batas aman yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hingga puluhan kali lipat.

"Dada saya terasa sangat sesak dan tenggorokan seperti terbakar setiap kali menghirup udara luar. Tanpa bantuan oksigen dari relawan, saya mungkin sudah harus dilarikan ke rumah sakit yang jaraknya sangat jauh dari sini," ungkap Siti Aminah (54), seorang warga Kubu Raya yang menerima bantuan oksigen medis.

Mobilisasi Relawan dan Penanganan Darurat

Melihat eskalasi krisis yang kian memburuk, gabungan relawan bencana dan tim medis lokal mendirikan posko tanggap darurat oksigen gratis. Mobil-mobil ambulans dan armada kendaraan roda dua dikerahkan menyisir lorong-lorong desa yang terpapar asap paling parah untuk memberikan pertolongan pertama pada korban karhutla.

"Fokus utama kami adalah kelompok rentan, yaitu lansia, bayi, serta warga yang memiliki riwayat penyakit asma. Stok tabung oksigen langsung kami salurkan di tempat begitu melihat ada warga yang megap-megap mencari udara segar," ujar Rahmat Hidayat, koordinator relawan aksi cepat di lapangan.

Perbandingan Kualitas Udara dan Dampak Kesehatan

Berikut adalah perbandingan kondisi kualitas udara dan dampaknya terhadap kesehatan warga di Kubu Raya sebelum dan selama bencana karhutla berlangsung:

Parameter Kondisi Normal Kondisi Karhutla Saat Ini
Nilai ISPU (PM2.5) 0 - 50 (Baik) > 300 (Berbahaya)
Jarak Pandang > 10 Kilometer < 500 Meter
Kasus Harian ISPA 10 - 15 Pasien/Puskesmas > 120 Pasien/Puskesmas

Pakar kesehatan masyarakat menegaskan bahwa paparan jangka panjang terhadap asap karhutla yang kaya akan bahan kimia beracun dan partikel mikro dapat memicu kerusakan paru-paru permanen. "Krisis kabut asap ini bukan sekadar gangguan kenyamanan, melainkan darurat kesehatan publik yang membutuhkan penanganan lintas sektor secara masif dan cepat," tegas dokter spesialis paru dalam imbauannya.

Desakan Penegakan Hukum dan Pemadaman Total

Warga dan aktivis lingkungan mendesak pemerintah daerah serta aparat penegak hukum untuk tidak hanya fokus pada pemadaman api via pemadaman darat dan water bombing, tetapi juga menindak tegas pelaku pembakaran lahan, baik perorangan maupun korporasi. Tanpa adanya tindakan tegas di hulu, bencana ekologis tahunan ini akan terus berulang dan mengorbankan keselamatan warga sipil.

Hingga berita ini diturunkan, helikopter pembom air masih dioperasikan untuk mengguyur titik-titik api utama di lahan gambut Kubu Raya. Namun, selama titik api belum sepenuhnya padam dan angin kencang terus berembus, warga Kubu Raya harus terus bertahan hidup di balik masker dan bantuan tabung oksigen demi mempertahankan napas mereka.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fahmi-reza

Reporter MotoGP/Formula 1. Meliput balapan motor dan mobil internasional.

Comments (0)

User