Teknologi

JAKARTA — Pakar Maritim Dorong Skema DBO Modernisasi Pelayaran Nasional

Kebutuhan akan armada pelayaran penumpang yang modern, aman, dan efisien semakin mendesak bagi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Dengan

JAKARTA — Pakar Maritim Dorong Skema DBO Modernisasi Pelayaran Nasional

Kebutuhan akan armada pelayaran penumpang yang modern, aman, dan efisien semakin mendesak bagi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Dengan lebih dari 17.000 pulau yang tersebar di seluruh nusantara, konektivitas laut menjadi tulang punggung utama mobilitas masyarakat dan distribusi ekonomi. Dalam upaya menjawab tantangan peremajaan armada angkutan laut nasional, para spesialis dan pengamat industri perkapalan kini tengah gencar memusatkan perhatian pada wacana penerapan skema Design Build Operate (DBO).

Gagasan skema DBO ini mengemuka sebagai solusi atas berbagai kendala klasik dalam pengadaan kapal penumpang publik di Indonesia, seperti tingginya biaya pemeliharaan, ketidaksesuaian desain dengan kondisi perairan lokal, hingga lambatnya proses peremajaan armada. Melalui pendekatan yang terintegrasi, skema DBO diyakini mampu mentransformasi tata kelola industri maritim nasional secara signifikan dalam jangka panjang.

Evaluasi Model Pengadaan Kapal Tradisional

Selama beberapa dekade terakhir, pengadaan armada pelayaran penumpang nasional mayoritas mengandalkan model konvensional terpisah. Dalam skema tradisional ini, pemerintah atau badan usaha memesan desain dari konsultan independen, menyerahkan pembuatan kapal ke galangan, lalu menyerahkan operasional serta perawatan kepada operator pelayaran secara terpisah. Model fragmentaris ini dinilai sering menimbulkan ketidakselarasan sistemik.

"Pengadaan kapal secara terpisah kerap memicu ketidaksesuaian spesifikasi teknik dengan kebutuhan operasional nyata di laut. Akibatnya, biaya pemeliharaan membengkak dan usia pakai kapal menjadi tidak optimal," ungkap seorang spesialis pembangunan kapal maritim senior.

Berdasarkan catatan evaluasi sektor maritim nasional, tahapan kronologis permasalahan pengadaan konvensional dapat dirinci sebagai berikut:

  1. Tahap Perencanaan Desain: Desain kapal dibuat tanpa keterlibatan langsung operator maritim, sehingga sering kali kurang responsif terhadap dinamika rual perairan lokal.
  2. Tahap Pembangunan di Galangan: Risiko keterlambatan konstruksi dan lonjakan biaya (cost overrun) akibat perubahan spesifikasi di tengah jalan.
  3. Tahap Operasional dan Perawatan: Operator menerima kapal dengan beban biaya pemeliharaan tinggi akibat ketidaktersediaan suku cadang atau kerumitan desain awal.

Analisis Keunggulan Skema Design Build Operate (DBO)

Skema Design Build Operate (DBO) menawarkan konsep pengadaan terpadu di mana satu konsorsium penyedia jasa bertanggung jawab penuh mulai dari perancangan (design), pembangunan kapal (build), hingga pengoperasian atau pemeliharaan (operate) dalam jangka waktu kontrak tertentu, misalnya 15 hingga 20 tahun. Kontraktor tidak hanya mengejar keuntungan dari penjualan unit kapal, tetapi juga terikat tanggung jawab memastikan kapal bekerja secara optimal selama masa operasinya.

Berikut adalah tabel perbandingan antara skema pengadaan konvensional dengan skema DBO dalam industri pelayaran penumpang:

Parameter Evaluasi Skema Pengadaan Konvensional Skema Design Build Operate (DBO)
Integrasi Tanggung Jawab Terpecah antara desainer, galangan, dan operator Tergabung dalam satu konsorsium tunggal
Manajemen Risiko Biaya Risiko pembengkakan ditanggung pemilik kapal Risiko efisiensi ditanggung pihak penyedia/kontraktor
Kualitas Pemeliharaan Tergantung anggaran perawatan tahunan operator Terjamin sesuai standar tingkat layanan (SLA) jangka panjang
Adopsi Teknologi Cenderung standar dan kaku Lebih inovatif guna menekan operasional bahan bakar

Dengan keterikatan jangka panjang tersebut, galangan kapal dan perancang terdorong untuk menggunakan bahan berkualitas tinggi serta teknologi efisiensi bahan bakar sejak awal. Sebab, setiap kerusakan atau inefisiensi pada tahap operasi akan secara langsung mengurangi profitabilitas kontraktor itu sendiri.

Prospek Implementasi dan Tantangan Regulasi

Penerapan skema DBO pada sektor pelayaran penumpang nasional diproyeksikan mampu menghemat anggaran belanja publik hingga 25 persen dalam kurun waktu satu dekade. Selain efisiensi anggaran, skema ini juga diyakini dapat memicu transfer teknologi secara intensif kepada galangan kapal dalam negeri. Apalagi, target peremajaan armada nasional diperkirakan mencakup lebih dari 50 unit kapal penumpang utama dalam kurun waktu 5 tahun ke depan.

Kendati demikian, tantangan terbesar implementasi skema ini terletak pada kesiapan regulasi pengadaan barang dan jasa pemerintah. Pembiayaan jangka panjang membutuhkan kepastian hukum serta komitmen skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) yang kuat.

“Pemerintah perlu segera merumuskan payung hukum fleksibel agar skema DBO dapat menarik minat investor swasta maupun BUMN pelayaran, tanpa melanggar ketentuan penganggaran negara,” tegas ahli maritim tersebut menutupi analisisnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User