Di tengah krisis kemanusiaan yang berkepanjangan, konflik Yaman kembali menorehkan luka baru. Pemerintah Yaman yang diakui internasional menuduh milisi Houthi melancarkan serangan terhadap sebuah rumah sakit di Kota Taiz pada Senin (12/10). Insiden ini menjadi pengingat pahit bahwa fasilitas kesehatan, yang seharusnya menjadi tempat paling aman, justru kerap menjadi sasaran dalam perang saudara yang telah berlangsung hampir satu dekade. Mengapa ini penting? Karena setiap serangan ke rumah sakit bukan hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga merenggut harapan jutaan warga sipil yang sudah terjebak dalam krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
Taiz, kota terbesar ketiga di Yaman, telah lama menjadi garis depan pertempuran antara pasukan pemerintah dan milisi Houthi. Kota ini terkepung sejak 2015, membuat akses terhadap pangan, obat-obatan, dan layanan kesehatan sangat terbatas. Serangan terbaru ini menambah daftar panjang pelanggaran hukum humaniter internasional yang menargetkan infrastruktur sipil. Ibarat seperti rumah yang sedang kebakaran, alih-alih memadamkan api, kedua pihak justru saling melempar bensin.
Kronologi dan Dampak Serangan
Menurut pernyataan pemerintah Yaman, serangan terjadi pada Senin pagi waktu setempat. Milisi Houthi dilaporkan menembakkan proyektil ke arah kompleks rumah sakit yang masih beroperasi melayani warga sipil. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban jiwa maupun luka-luka. Namun, organisasi kesehatan internasional yang bekerja di Taiz menyebut bahwa fasilitas tersebut menampung puluhan pasien, termasuk anak-anak dan ibu hamil. Rumah sakit itu merupakan salah satu dari sedikit pusat rujukan yang masih berfungsi di wilayah tersebut.
Serangan ini bukan yang pertama. Sepanjang konflik, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 200 serangan terhadap fasilitas kesehatan di Yaman sejak 2016. Data ini menunjukkan pola sistematis yang mengabaikan prinsip pembedaan dalam hukum humaniter, yakni kewajiban untuk membedakan antara kombatan dan warga sipil. Dalam konteks ini, rumah sakit seharusnya dilindungi secara khusus. Namun, realitas di lapangan berkata lain.
Respons Internasional dan Dinamika Konflik
Hingga kini, pihak Houthi belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan tersebut. Pola ini mirip dengan insiden-insiden sebelumnya, di mana masing-masing pihak saling menuduh dan menyangkal. Pemerintah Yaman yang berbasis di Aden menyerukan penyelidikan independen, sementara koalisi Arab Saudi yang mendukungnya kembali menegaskan komitmen untuk melindungi warga sipil. Di sisi lain, Houthi yang menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah utara Yaman sering menuduh lawannya melakukan propaganda untuk menutupi kegagalan militer.
"Serangan terhadap rumah sakit adalah pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Pelaku harus dimintai pertanggungjawaban," ujar seorang pejabat PBB yang enggan disebutkan namanya, seperti dikutip dari laporan kemanusiaan mingguan.
Konflik Yaman sendiri telah menciptakan apa yang PBB sebut sebagai krisis kemanusiaan terbesar abad ini. Lebih dari 4 juta orang mengungsi, dan sekitar 80 persen populasi membutuhkan bantuan kemanusiaan. Sistem kesehatan negara itu nyaris kolaps. Hanya sekitar 50 persen fasilitas kesehatan yang masih beroperasi, itupun dengan pasokan obat dan tenaga medis yang sangat terbatas. Serangan ke rumah sakit di Taiz menjadi pukulan telak bagi upaya pemulihan yang sudah rapuh.
Anatomi Krisis yang Tak Berkesudahan
Untuk memahami mengapa serangan seperti ini terus terjadi, kita perlu melihat akar konflik. Perang Yaman dimulai pada 2014 ketika milisi Houthi merebut Sanaa, memicu intervensi militer koalisi pimpinan Arab Saudi pada 2015. Sejak itu, negara ini terpecah menjadi dua kubu: pemerintah yang didukung koalisi, dan Houthi yang didukung Iran. Taiz menjadi salah satu titik pertempuran paling sengit karena posisinya yang strategis, menghubungkan wilayah utara dan selatan.
Di balik narasi geopolitik, dampak nyata dirasakan oleh rakyat biasa. Ibu-ibu harus menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk mendapatkan obat demam anaknya. Dokter bekerja tanpa listrik dan air bersih. Anak-anak tumbuh dalam trauma yang tak terbayangkan. Dalam konflik ini, siapa pun yang menang secara militer, rakyat Yaman tetap menjadi pihak yang kalah.
Masyarakat internasional terus mendesak gencatan senjata dan negosiasi damai. Namun, hingga kini, proses perdamaian masih berjalan tersendat. Serangan ke rumah sakit di Taiz seharusnya menjadi panggilan keras bagi semua pihak untuk mengedepankan kemanusiaan di atas ambisi kekuasaan. Tanpa itu, Yaman akan terus tenggelam dalam lingkaran kekerasan yang tak berujung.
Comments (0)