Teknologi

DPRD Jabar Soroti Dampak Data Center AI terhadap Air dan Listrik Warga

Pembangunan pusat data (data center) berteknologi kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence) di kawasan Jatiluhur, Jawa Barat, kembali menjadi sorotan publik. Bukan karena nilai investasinya ...

DPRD Jabar Soroti Dampak Data Center AI terhadap Air dan Listrik Warga

Pembangunan pusat data (data center) berteknologi kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence) di kawasan Jatiluhur, Jawa Barat, kembali menjadi sorotan publik. Bukan karena nilai investasinya yang fantastis, melainkan karena kekhawatiran serius terhadap pasokan air dan listrik yang bakal tersedot untuk mengoperasikan fasilitas raksasa tersebut. Isu ini penting bagi masyarakat luas karena menyangkut hajat hidup orang banyak: sumber daya alam yang selama ini menopang kehidupan warga bisa tergerus oleh kebutuhan industri digital yang tumbuh begitu cepat.

Anggota DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Jawa Barat, Maulana Yusuf, mengangkat kekhawatiran ini ke permukaan. Ia mempertanyakan kelanjutan proyek data center BDx di Jatiluhur meski dokumen AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) berpotensi menunjukkan hasil yang kurang menguntungkan bagi lingkungan sekitar. Menurutnya, kajian lingkungan tidak boleh sekadar menjadi formalitas administrasi, tetapi harus benar-benar menjadi rem yang mengendalikan laju eksploitasi sumber daya.

Mengapa Data Center AI Begitu Rakus Air dan Listrik?

Ibarat seperti pabrik yang tidak pernah tidur, data center beroperasi 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, tanpa henti. Di dalamnya terdapat ribuan server yang bekerja simultan untuk memproses data, menjalankan algoritma machine learning (pembelajaran mesin), dan melayani permintaan pengguna dari berbagai platform digital. Semua aktivitas itu menghasilkan panas luar biasa. Agar tidak terbakar, server harus didinginkan. Metode pendinginan yang paling umum dan murah adalah menggunakan air dalam jumlah besar.

Belum lagi kebutuhan listrik. Sebuah data center berskala besar bisa mengonsumsi daya setara dengan kota kecil. Ketika teknologi AI (Artificial Intelligence) masuk ke dalamnya, kebutuhan komputasi melonjak drastis. Model AI generatif, misalnya, membutuhkan daya prosesor grafis atau GPU (Graphics Processing Unit) yang jauh lebih tinggi dibanding server biasa. Inilah yang membuat data center AI menjadi konsumen energi dan air yang jauh lebih besar dibanding pusat data konvensional.

Spesifikasi umum data center AI skala besar:

  • Daya terpasang: 20–100 megawatt (MW) atau lebih, setara konsumsi listrik puluhan ribu rumah tangga.
  • Kebutuhan air pendingin: jutaan liter per hari, tergantung sistem pendinginan dan iklim setempat.
  • Luas lahan: bisa mencapai belasan hektare untuk gedung, sistem pendingin, dan infrastruktur pendukung.

Risiko Nyata bagi Warga Sekitar

Jika proyek ini tetap berjalan tanpa pengelolaan yang ketat, dampaknya bisa berlapis. Pertama, debit air dari Waduk Jatiluhur yang selama ini dimanfaatkan untuk irigasi pertanian, sumber air baku rumah tangga, dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) berpotensi berkurang. Kedua, beban jaringan listrik setempat bisa meningkat tajam, yang berisiko memicu pemadaman bergilir jika pasokan tidak dipersiapkan dengan matang.

Ketiga, ada potensi konflik sosial. Ketika warga merasakan langsung kelangkaan air atau listrik, sementara di sisi lain hadir fasilitas teknologi canggih yang seolah tidak tersentuh, kesenjangan itu bisa memicu ketegangan. Inilah mengapa pengembangan ekosistem deep tech (teknologi mendalam) harus memperhitungkan aspek sosial, bukan hanya efisiensi komputasi.

"Kami tidak menolak inovasi, tetapi jangan sampai pembangunan data center mengorbankan kepentingan dasar warga. AMDAL harus menjadi dasar pengambilan keputusan, bukan sekadar pelengkap dokumen," tegas Maulana Yusuf dalam pernyataannya.

Antara Inovasi dan Keberlanjutan

Di satu sisi, kehadiran data center AI memang mendukung pertumbuhan ekonomi digital nasional. Investasi di sektor ini membuka lapangan kerja, meningkatkan kapasitas komputasi nasional, dan mempercepat adopsi teknologi di berbagai industri. Namun, di sisi lain, pengembangan harus berjalan seiring dengan prinsip keberlanjutan. Sejumlah negara telah menerapkan standar ketat, seperti penggunaan energi terbarukan, sistem pendingin hemat air, dan audit lingkungan berkala.

AspekData Center KonvensionalData Center AI
Konsumsi listrik5–20 MW20–100 MW
Kebutuhan airRendah–sedangTinggi
Beban komputasiSedangSangat tinggi

Pertanyaannya kini: apakah proyek di Jatiluhur akan mengadopsi teknologi pendingin hemat air dan sumber energi bersih? Ataukah ia akan menambah beban pada sumber daya yang sudah terbatas? Publik berhak mendapat jawaban transparan. Pengembangan teknologi tidak boleh menciptakan disrupsi yang merugikan, melainkan harus menghadirkan efisiensi yang berkeadilan.

Pada akhirnya, kasus ini menjadi cermin bagi kita semua: kemajuan algoritma dan platform digital harus diimbangi dengan kebijaksanaan dalam mengelola air, listrik, dan ruang hidup bersama. Tanpa itu, inovasi hanya akan menjadi beban baru bagi warga yang seharusnya menjadi penerima manfaat utama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User