Rumah konveksi Fia Busana di Sawangan, Depok, masih terdengar suara mesin jahit pada Rabu (08/07/2026). Namun, ritme kerja para penjahit tak sedinamis tahun-tahun sebelumnya. Seorang pekerja tampak menyelesaikan set jahitan terakhir sebelum kembali menanti order baru. Pemilik usaha, Hendra (41), mengakui bahwa pesanan seragam sekolah musim ini anjlok sekitar 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. “Biasanya Juli itu puncak produksi. Sekarang, kami hanya mengerjakan sisa order dari Mei yang tertunda,” ujarnya. Data internal Fia Busana menunjukkan total pesanan Juli 2026 baru mencapai 1.200 setel, jauh di bawah capaian Juli 2025 sebesar 1.720 setel. Penurunan ini menambah daftar panjang tekanan yang dialami sektor konveksi skala mikro di kawasan penyangga ibu kota.
Analisis Penyebab Penurunan: Bukan Sekadar Tren Musiman
Sejumlah faktor bertemu menciptakan badai sempurna bagi industri seragam sekolah lokal. “Penurunan ini bersifat struktural, bukan sekadar fluktuasi permintaan tahun ajaran,” kata ekonom Universitas Indonesia, Dita Prameswari. Faktor pertama adalah perlambatan daya beli kelas menengah bawah yang selama ini menjadi konsumen utama konveksi rumahan. Survei Sosial Ekonomi Nasional terbaru mencatat pengeluaran riil untuk pakaian anak usia sekolah turut 4,2 persen secara tahunan. Kedua, kebijakan Dinas Pendidikan Jawa Barat yang memperluas program seragam gratis untuk siswa kurang mampu di 15 kota/kabupaten turut menggerus pasar. Ketiga, makin maraknya platform fast fashion daring yang menawarkan seragam siap pakai dengan harga lebih murah, meski kualitasnya di bawah produk konveksi lokal. “Orang lebih memilih beli tiga seragam murah daripada dua seragam jahitan kuat,” keluh Hendra. Keempat, kepastian kalender akademik yang sempat tertunda akibat pembahasan kurikulum baru membuat sebagian sekolah menunda pemesanan massal.
Dampak terhadap Industri Konveksi Lokal
Penurunan ini tidak hanya memukul omzet. Fia Busana terpaksa mengurangi jam kerja pegawai dari semula 8 jam menjadi 5 jam per hari dan mengalihkan dua dari tujuh penjahit tetapnya ke sistem borongan lepas. Kondisi serupa dikeluhkan belasan konveksi di Kelurahan Pengasinan dan Bedahan yang tergabung dalam Paguyuban Konveksi Sawangan. Ketua paguyuban, Tarmizi, menyebut 55 persen anggota melaporkan penurunan pesanan di atas 25 persen. “Ini pertama kalinya sejak 2016 kami harus menolak bahan baku dari pemasok karena takut menumpuk,” katanya. Dampak ikutannya, serapan kain lokal seperti katun dan drill dari pabrik tekstil di Bandung juga turut melorot. Data Asosiasi Pertekstilan Indonesia mencatat permintaan kain seragam dari usaha kecil menengah di Jabodetabek susut 18 persen pada kuartal II-2026.
Perbandingan Kinerja: Juli 2025 vs Juli 2026
| Indikator | Juli 2025 | Juli 2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Total pesanan (setel) | 1.720 | 1.200 | -30,2% |
| Omzet (juta Rp) | 86 | 60 | -30,2% |
| Jumlah penjahit tetap | 8 | 5 | -37,5% |
| Rata-rata jam kerja per hari | 8 | 5 | -37,5% |
| Pesanan kain dari supplier (meter) | 2.400 | 1.650 | -31,3% |
Kondisi ini memaksa pelaku usaha berinovasi. Hendra kini mulai menerima jahitan pakaian kerja harian dan seragam komunitas agar mesinnya tetap berputar. Sementara itu, Dita Prameswari menyarankan konveksi kecil untuk merapat ke ekosistem e-commerce B2B dan menawarkan layanan desain kustom yang tidak bisa diberikan produk impor. “Mereka harus bergerak dari sekadar jahit menjadi mitra kreasi,” tegasnya. Di sisi lain, paguyuban sedang mengadvokasi agar program seragam gratis Pemprov Jabar turut memberdayakan konveksi setempat, bukan hanya pabrikan besar.
Situasi di Depok menjadi potret suram industri seragam sekolah rumahan yang kini bertarung di tengah tekanan ekonomi dan perubahan pola belanja. Tanpa adaptasi cepat, ruang usaha mikro ini berisiko kian tergerus.
[SOCIAL_TWEET]: Pesanan seragam sekolah di Depok anjlok 30%, pukul konveksi rumahan. Jam kerja penjahit dipangkas, omzet tergerus. Ekonom: penurunan struktural, bukan sekadar musiman. [SOCIAL_TG]: 📉 Pesanan Seragam Sekolah Depok Anjlok 30% – Konveksi Rumahan Terpukul • Total order Juli 2026: 1.200 setel (vs 1.720 di 2025) • Omzet turun Rp86 juta → Rp60 juta • Jam kerja dipangkas, 3 penjahit tetap jadi lepas • Penyebab: daya beli lemah, seragam gratis, fast fashion daring • Strategi bertahan: alih produksi ke pakaian kerja & e-commerce B2B Selengkapnya: [tautan]
Comments (0)