Teknologi

BUENOS AIRES — Darío Sztajnszrajber Bedah Pemikiran Plato Soal Eksistensi Manusia

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang menuntut kepastian, efisiensi, dan hasil instan, pertanyaan mendasar mengenai tujuan eksistensi manusia kembali

BUENOS AIRES — Darío Sztajnszrajber Bedah Pemikiran Plato Soal Eksistensi Manusia

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang menuntut kepastian, efisiensi, dan hasil instan, pertanyaan mendasar mengenai tujuan eksistensi manusia kembali mengemuka. Filsuf terkemuka asal Argentina, Darío Sztajnszrajber, membagikan pandangan mendalam mengenai makna kebahagiaan, pencarian pengetahuan, serta aktualisasi diri dalam sebuah wawancara eksklusif bersama media ternama LA NACION. Menurutnya, perjalanan hidup bukanlah tentang mencapai titik akhir yang sempurna, melainkan keberanian untuk terus mempertanyakan realitas di tengah ketidakpastian.

Hakikat Pencarian Kebahagiaan dan Kepuasan Diri

Pencarian akan rasa puas atau aktualisasi diri sering kali terjebak dalam ilusi kesempurnaan. Sztajnszrajber menegaskan bahwa rasa bahagia tidak pernah bersifat mutlak atau 100 persen selesai. Ketika seseorang merasa telah mencapai kepuasan total, pada saat itulah ia justru berisiko kehilangan daya kritis terhadap dirinya sendiri. Kepuasan, menurut pandangan vokasionalnya, harus dipahami sebagai sebuah refleksi internal yang terus bergerak dan berproses.

"Saya menemukan sesuatu dari kebahagiaan ketika saya bisa meresapi aktualisasi diri saat ini. Namun, saya tidak pernah percaya bahwa saya telah 100 persen teraktualisasi," ungkap Darío Sztajnszrajber.

Filsuf ternama ini mengajak masyarakat untuk tidak mudah terbuai oleh pencapaian sesaat. Perasaan terlalu yakin akan keberhasilan kerap membuat manusia lupa untuk mengevaluasi arah hidup mereka yang sebenarnya. "Rasa puas berlebih adalah titik di mana kita mulai mempercayai ilusi yang kita ciptakan sendiri," tambahnya dengan nada reflektif.

Refleksi Pemikiran Plato dalam Karya Klasik 'Symposium'

Dalam wawancara tersebut, Sztajnszrajber mengutip gagasan abadi dari filsuf Yunani Kuno, Plato, khususnya yang tertuang dalam karya monumental Symposium. Pemikiran klasik ini menjadi fondasi penting dalam memahami mengapa manusia terus bergerak dan berjuang meski tidak pernah menemukan jawaban yang benar-benar sempurna di ujung perjalanan.

"Kita pergi mencari pengetahuan yang kita tahu tidak akan pernah kita capai, tetapi kita tetap melangkah. Ada sesuatu yang terus memotivasi kita," ujar Sztajnszrajber merujuk pada definisi filsafat menurut Plato.

Pernyataan tersebut menggambarkan daya dorong eksistensial yang dimiliki manusia. Meskipun muara dari pencarian sains dan sains kemanusiaan tidak pernah benar-benar tuntas, hasrat untuk terus melangkah adalah inti dari kebudayaan itu sendiri. Kegelisahan intelektual inilah yang menyelamatkan manusia dari kebingungan dan kebangkrutan makna hidup.

Tantangan Berfilsafat: Krisis vs Stabilitas Sistem

Menariknya, Sztajnszrajber menekankan bahwa berfilsafat saat kondisi dunia sedang hancur atau runtuh justru jauh lebih mudah dibandingkan saat segala sesuatu berjalan dengan baik dan lancar. Ketika krisis terjadi, manusia secara alami mempertanyakan keberadaan mereka. Sebaliknya, saat sistem berjalan lancar, masyarakat cenderung terbuai oleh rutinitas mekanis tanpa pernah mempertanyakan tujuan akhir mereka.

Berikut adalah perbandingan sudut pandang antara efisiensi sistemik modern dengan perenungan filosofis yang disampaikan:

Aspek Evaluasi Sudut Pandang Fungsionalis Modern Sudut Pandang Filosofis (Plato & Sztajnszrajber)
Tujuan Utama Kelancaran fungsi dan efisiensi sistem. Pencarian makna dan pemikiran kritis.
Ukuran Sukses Pencapaian target 100% & kepastian. Proses belajar yang tidak pernah usai.
Respon Krisis Perbaikan teknis secara cepat. Refleksi mendalam atas fondasi eksistensi.

Sztajnszrajber secara tegas membantah narasi bahwa tujuan tunggal dari eksistensi manusia hanyalah sekadar "berfungsi dengan baik" dalam roda masyarakat. Menurutnya, keindahan hidup justru terletak pada ketidaksempurnaan dan keberanian untuk tetap bertanya meski tidak ada garansi jawaban mutlak di akhir perjalanan.

Pada akhirnya, kehidupan yang terburu-buru sering kali mengabaikan pertanyaan-pertanyaan mendasar ini. Melalui perenungan yang disampaikannya, Sztajnszrajber mengingatkan bahwa hakikat menjadi manusia adalah menjadi pengembara pemikiran yang tidak pernah berhenti mencari kebenaran.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fahmi-reza

Reporter MotoGP/Formula 1. Meliput balapan motor dan mobil internasional.

Comments (0)

User