SITUBONDO — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hebat kembali menerjang kawasan Gunung Argopuro yang membentang di perbatasan Kabupaten Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, dan Jember, Jawa Timur. Eskalasi kobaran api yang kian meluas memicu Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur mengambil tindakan tegas dengan menutup total seluruh akses kawasan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang (Argopuro) dari aktivitas pendakian maupun kegiatan riset hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Hembusan angin kencang yang berpadu dengan vegetasi semak belukar yang mengering akibat cuaca ekstrem musim kemarau menjadi pemicu utama cepatnya penyerbaran titik api (hotspot). Berdasarkan pemantauan awal satelit, vegetasi ekosistem hutan hujan pegunungan dan padang savana terbakar dengan intensitas tinggi, yang mengancam kelangsungan habitat fauna langka yang dilindungi di area suaka tersebut.
Kronologi Penyebaran Api dan Respons Darurat
Kemunculan asap pekat pertama kali terdeteksi di sektor lereng utara sebelum akhirnya merambat cepat menuju puncak Cikasur. Berikut adalah urutan kronologi penanganan serta respons darurat yang dilakukan oleh tim gabungan di lapangan:
- Selasa, 08.00 WIB: Petugas pemantau BBKSDA menemukan kepulan asap tebal membubung di blok Savana Loncatan pada ketinggian sekitar 2.200 mdpl.
- Selasa, 13.00 WIB: Pos pendakian Badader dan Bremi resmi ditutup. Tim SAR dan relawan dikerahkan untuk mengevakuasi 45 pendaki yang terdaftar di sepanjang jalur pendakian Gunung Argopuro.
- Rabu, 06.00 WIB: Operasi pemadaman darurat dimulai dengan melibatkan 200 personel gabungan dari Manggala Agni, BPBD, TNI, Polri, dan relawan lokal.
- Rabu, 17.00 WIB: Kobaran api meluas hingga membakar area seluas lebih dari 150 hektar akibat hambatan angin barat yang bertiup sangat kencang.
Analisis Dampak Ekologis dan Kendala Pemadaman
Penanganan karhutla di Dataran Tinggi Yang menghadapi kendala geografis yang sangat berat. Topografi Gunung Argopuro yang memiliki jalur pendakian terpanjang di Pulau Jawa—yakni mencapai 40 kilometer—membuat mobilitas armada pemadam darat tidak mungkin menjangkau pusat api. Petugas di lapangan terpaksa mengandalkan pemadaman manual menggunakan kepyok (pemukul api) serta pembuatan sekat bakar (firebreak).
Pihak otoritas konservasi menekankan bahwa perlindungan ekosistem prioritas menjadi fokus utama dalam operasi penanggulangan ini. "Kami memprioritaskan keselamatan jiwa manusia serta penyelamatan fauna endemik seperti Merak Jawa dan Rusa Jawa yang menjadikan padang rumput Cikasur sebagai habitat utama mereka," ujar perwakilan BBKSDA Jawa Timur.
Berikut adalah perbandingan data operasional dan dampak ekologis sebelum serta sesudah terjadinya kebakaran lahan di Gunung Argopuro:
| Indikator Parametrik | Kondisi Normal | Kondisi Darurat Karhutla |
|---|---|---|
| Status Operasional Akses | Buka (Izin Simaksi) | Penutupan Total (Zona Merah) |
| Perkiraan Luas Terdampak | 0 Hektar | >150 Hektar |
| Jumlah Personel Siaga | 15 Personel Posko | 200+ Personel Gabungan |
| Ancaman Satwa Endemik | Rendah (Habitat Stabil) | Tinggi (Potensi Kehilangan Habitat) |
"Kebakaran di kawasan konservasi bukan sekadar kehilangan vegetasi kayu dan rumput, melainkan kerusakan ekosistem mendasar yang membutuhkan waktu pemulihan hingga puluhan tahun. Penutupan ini mutlak dilakukan sampai titik api benar-benar padam," ungkap pakar analisis lingkungan setempat.
Pemerintah daerah bersama BPBD mengimbau masyarakat di kaki gunung untuk tetap waspada terhadap bahaya ISPA akibat sebaran paparan asap. Selain itu, proses investigasi mendalam tengah berjalan untuk memastikan penyebab utama kebakaran, termasuk kemungkinan adanya unsur kelalaian manusia.
Comments (0)