Keputusan Riyadh menolak kerja sama militer dengan Israel untuk menghadapi kelompok Houthi di Yaman menjadi salah satu sinyal paling penting dalam lanskap geopolitik Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir. Mengapa ini penting? Karena langkah tersebut tidak sekadar soal satu operasi militer, melainkan menyangkut cara Arab Saudi menjaga legitimasi di mata dunia Arab dan dunia Islam, sekaligus menjaga keseimbangan aliansi di kawasan yang sangat sensitif terhadap isu solidaritas Palestina. Ibarat seperti seseorang yang menolak bantuan dari tetangga yang tidak disukai mayoritas kampungnya: bantuannya mungkin secara teknis berguna, tetapi risikonya sosial dan politik jauh lebih besar daripada manfaatnya.
Menurut informasi yang beredar, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, menolak tawaran Israel untuk melakukan operasi militer bersama di Yaman. Alasan utamanya bukan soal kemampuan militer, melainkan kekhawatiran terhadap dampak negatif di kalangan masyarakat Arab. Arab Saudi selama bertahun-tahun terlibat dalam konflik Yaman melalui koalisi yang mendukung pemerintah yang diakui internasional melawan kelompok Houthi, yang menguasai ibu kota Sanaa dan wilayah utara. Namun, konflik ini telah menjadi beban ekonomi dan diplomatik yang berat, termasuk kritik internasional atas korban sipil dan krisis kemanusiaan.
Mengapa Tawaran Israel Begitu Sensitif bagi Riyadh
Secara teknis, kerja sama intelijen dan operasi militer antara Arab Saudi dan Israel bukan hal yang mustahil. Kedua negara memiliki musuh bersama: kelompok Houthi yang didukung Iran, serta poros perlawanan yang dipimpin Teheran. Namun, secara politik, membuka kerja sama militer secara terbuka dengan Israel adalah langkah yang sangat berisiko. Opini publik Arab, termasuk di Arab Saudi, sangat dipengaruhi oleh isu Palestina. Setiap langkah yang terlihat mendekat ke Israel dapat memicu protes, boikot, dan delegitimasi bagi pemerintah yang sedang mendorong agenda reformasi ekonomi dan sosial.
“Keputusan seperti ini menunjukkan bahwa parameter utama kebijakan luar negeri Arab Saudi bukan lagi sekadar keamanan militer, tetapi juga stabilitas sosial dan legitimasi domestik,” kata seorang pengamat geopolitik Timur Tengah.
Selain itu, Arab Saudi tengah berupaya menampilkan diri sebagai kekuatan stabil di kawasan. Riyadh telah memulihkan hubungan dengan Iran melalui kesepakatan yang dimediasi China pada 2023, dan berupaya menurunkan tensi di Yaman melalui negosiasi. Membawa Israel secara langsung ke dalam konflik Yaman akan bertentangan dengan arah diplomasi tersebut. Ibarat seperti seorang pemimpin komunitas yang sedang berusaha meredakan pertengkaran antarwarga, ia justru mengundang pihak yang paling dibenci salah satu kubu untuk ikut campur.
Konflik Yaman dan Perhitungan Strategis Arab Saudi
Konflik Yaman telah berlangsung hampir satu dekade. Koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi militer pada 2015 untuk mengembalikan pemerintah yang digulingkan Houthi. Namun, setelah bertahun-tahun perang, Houthi justru semakin kuat dan mampu melancarkan serangan drone serta rudal ke wilayah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Kelompok ini juga meningkatkan serangan terhadap kapal di Laut Merah, yang mengganggu jalur perdagangan global. Dalam konteks itu, tawaran Israel mungkin terlihat sebagai solusi teknologi dan intelijen yang menggiurkan.
Namun, Riyadh tampaknya menghitung bahwa keuntungan militer jangka pendek tidak sebanding dengan kerugian politik jangka panjang. Arab Saudi masih mengandalkan dukungan Amerika Serikat untuk pertahanan, tetapi juga membutuhkan hubungan baik dengan negara-negara Arab dan Muslim lainnya. Normalisasi hubungan dengan Israel — yang sempat dibahas dalam kerangka Abraham Accords — kini semakin sulit setelah perang di Gaza. Menerima bantuan militer Israel untuk Yaman akan membuat normalisasi semakin tidak mungkin dalam waktu dekat.
Dampak ke Depan: Sinyal bagi Iran dan Amerika Serikat
Penolakan ini juga mengirim pesan kepada Iran bahwa Arab Saudi tidak ingin eskalasi besar-besaran. Riyadh ingin menunjukkan bahwa mereka bisa menjadi penjaga stabilitas regional tanpa harus bergantung pada Israel. Bagi Amerika Serikat, keputusan ini menjadi pengingat bahwa Washington tidak bisa begitu saja mengarahkan aliansi di kawasan. Arab Saudi memiliki kepentingan dan kalkulasi sendiri, terutama ketika menyangkut sentimen publik Arab.
Ke depan, Arab Saudi diperkirakan akan terus mendorong solusi politik di Yaman, meskipun prosesnya berliku. Tawaran Israel kemungkinan akan tetap ditolak selama isu Palestina belum terselesaikan secara adil. Bagi pembaca awam, intinya sederhana: dalam politik Timur Tengah, bantuan militer tidak pernah sekadar soal senjata. Ada dimensi identitas, solidaritas, dan legitimasi yang sering kali lebih menentukan daripada kekuatan tempur. Keputusan Mohammed bin Salman ini adalah contoh nyata bagaimana teknologi dan inovasi militer harus tunduk pada realitas sosial dan politik di lapangan.
Comments (0)